“Anak Jalanan: Di Persimpangan Takdir dan Hak untuk Hidup Layak”

MENTARI NEWS- Mereka ada di lampu merah, di stasiun, di emperan toko, bahkan di jalanan yang kita lewati setiap hari. Mereka menyanyi, mengamen, menjual tisu, atau sekadar menengadahkan tangan. Kita menyebut mereka anak jalanan — kelompok rentan yang sering diabaikan oleh sistem, namun tak pernah luput dari sorotan mata publik.

Namun, di balik stigma, ada pertanyaan mendasar yang jarang kita renungkan: apakah anak-anak ini benar-benar memilih hidup di jalan? Atau justru masyarakat dan negara yang gagal menyediakan ruang aman dan layak bagi mereka?

Bukan Sekadar Masalah Sosial

Anak jalanan bukan sekadar “masalah sosial” yang perlu “ditertibkan”. Mereka adalah individu yang memiliki hak dasar: untuk tumbuh, belajar, dilindungi, dan hidup layak. Sayangnya, realita di lapangan sering kali berbeda. Banyak dari mereka kehilangan akses pada pendidikan, layanan kesehatan, bahkan perlindungan hukum.

Ironisnya, sebagian besar hanya dikenali sebagai “pengganggu ketertiban umum”, bukan sebagai anak-anak yang terpinggirkan oleh kemiskinan, kekerasan rumah tangga, atau putus sekolah.

Di Antara Stigma dan Harapan

Stigma terhadap anak jalanan masih kuat. Mereka kerap dicap nakal, berandalan, bahkan kriminal. Padahal, banyak dari mereka adalah korban — dari kondisi ekonomi, keluarga yang tidak utuh, hingga lingkungan yang tak ramah anak.

Namun di balik itu, anak-anak ini tetap punya mimpi. Mereka ingin sekolah, bermain, dan diperlakukan seperti anak-anak lainnya. Banyak yang menunjukkan potensi besar: pintar, tangguh, penuh semangat. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, bukan penghakiman.

Peran Negara dan Masyarakat

Undang-Undang Perlindungan Anak di Indonesia dengan tegas menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh kembang, perlindungan, dan partisipasi. Maka, membiarkan anak-anak hidup di jalanan adalah bentuk pembiaran terhadap pelanggaran hak asasi manusia.

Pemerintah punya tanggung jawab menyediakan rumah singgah, pendidikan inklusif, hingga program reintegrasi sosial. Namun masyarakat pun memegang peran penting: membuka mata, menghapus stigma, dan mendorong sistem yang lebih manusiawi.

Anak jalanan bukan angka statistik. Mereka manusia, anak-anak, yang berhak atas masa depan. Jika kita benar-benar ingin membangun bangsa yang adil dan beradab, maka perlindungan terhadap yang paling lemah — termasuk anak jalanan — harus jadi prioritas.

Sebab di balik tubuh-tubuh kecil yang menanti di lampu merah itu, ada harapan yang besar: untuk hidup layak, untuk sekolah, untuk menjadi anak-anak seperti seharusnya.***