Citayam Fashion Week: Gaya Jalanan atau Gerakan Sosial Anak Muda?

MENTARI NEWS- Ketika trotoar kawasan Dukuh Atas, Jakarta, mendadak disulap jadi panggung catwalk dadakan oleh anak-anak muda dari pinggiran kota seperti Citayam, Bojonggede, dan Depok, publik pun tercengang. Fenomena ini bukan hanya soal gaya berpakaian mencolok, tetapi juga tentang narasi besar: ruang berekspresi yang direbut oleh generasi muda dari kelas yang sering tak dilihat.

Citayam Fashion Week (CFW) muncul sebagai fenomena yang viral di pertengahan 2022 dan sempat jadi trending di media sosial selama berminggu-minggu. Tapi, apakah ini hanya tren sesaat, atau bentuk pembangkangan sosial yang cerdas?


Lebih dari Sekadar Fashion

Awalnya, banyak yang menganggap kehadiran anak-anak muda itu hanya “gaya-gayaan” atau ajang cari perhatian. Namun, jika dilihat lebih dalam, Citayam Fashion Week adalah bentuk artikulasi identitas dari mereka yang selama ini termarjinalkan dari ruang-ruang ekspresi di pusat kota.

Mereka bukan sekadar berpakaian nyentrik. Mereka sedang berkata: “Kami ada. Kami juga punya gaya. Kami juga berhak atas ruang publik.”


Menggugat Norma, Merayakan Kebebasan

Citayam Fashion Week menggugat standar gaya berpakaian, norma sopan-santun, hingga batas-batas antara kota dan pinggiran. Di tengah tekanan sosial soal penampilan ideal dan kelas sosial, kehadiran mereka seolah menjungkirbalikkan narasi dominan.

Fashion yang mereka bawa bukan brand internasional. Tapi keberanian mereka adalah brand itu sendiri. Dan itulah yang menarik perhatian publik, influencer, bahkan selebritas.


Dari Viral ke Komersial: Berkah atau Masalah?

Popularitas CFW kemudian menarik banyak pihak untuk ‘menunggangi’ tren ini, dari brand fashion hingga politikus. Sebagian melihatnya sebagai peluang kolaborasi, namun tak sedikit pula yang menilai hal itu malah mereduksi makna asli dari CFW yang bersifat spontan dan organik.

Ketika kekuatan ekonomi dan politik mulai masuk, pertanyaannya: apakah semangat asli dari Citayam Fashion Week tetap bisa dijaga? Ataukah akan dikooptasi jadi ajang branding dan pencitraan semata?


Ruang Publik Bukan Milik Elite

Fenomena ini mengingatkan kita bahwa ruang publik seharusnya inklusif. CFW adalah teguran halus—atau bahkan sindiran tajam—bahwa kota seringkali tidak ramah pada mereka yang miskin, muda, dan tidak “rapi.”

Anak-anak muda dari Citayam dan sekitarnya menjadikan trotoar sebagai runway, bukan karena ingin viral semata, tapi karena mereka tidak punya ruang lain untuk menunjukkan siapa diri mereka. Dan ketika ruang publik dibatasi hanya untuk kalangan tertentu, di situlah demokrasi kehilangan maknanya.


Dari Trotoar ke Perubahan Sosial?

Citayam Fashion Week bisa jadi hanya tren viral. Tapi ia telah menancapkan pesan yang tak bisa diabaikan: bahwa identitas, ekspresi, dan keberanian bisa muncul dari siapa saja, di mana saja. Ini bukan sekadar soal fashion, tapi soal pembebasan.

Mungkin suatu hari fenomena ini akan hilang. Namun semangatnya telah membuka mata kita: bahwa trotoar pun bisa jadi panggung perjuangan identitas.***