MENTARI NEWS- Setiap kali masa kampanye tiba, debat kandidat selalu menjadi salah satu sorotan utama dalam pesta demokrasi. Disiarkan secara langsung di televisi, ditonton jutaan pasang mata, dan disambut hangat di media sosial. Namun, pertanyaannya: apakah debat ini sungguh-sungguh menjadi arena adu gagasan yang substantif? Ataukah hanya menjadi seremoni politik yang sarat gimmick?
Antara Harapan dan Kenyataan
Secara ideal, debat kandidat adalah ruang publik yang dirancang untuk menguji visi, misi, serta program kerja para calon pemimpin. Lewat debat, rakyat bisa menilai siapa yang paling siap, paling jujur, dan paling layak memimpin.
Namun dalam praktiknya, debat kandidat sering kali hanya menjadi panggung pencitraan. Gagasan kadang tenggelam dalam serangan personal, penguasaan panggung, atau bahkan lelucon yang viral. Penonton lebih sibuk menilai siapa yang lebih “menang gaya”, bukan siapa yang menawarkan solusi nyata.
Format Debat: Terlalu Formal, Kurang Dialogis
Salah satu kritik utama adalah soal format debat yang kaku dan dibatasi waktu sangat ketat. Alhasil, jawaban kandidat sering bersifat normatif, tanpa kesempatan untuk menggali lebih dalam. Bahkan isu-isu krusial seperti pendidikan, lingkungan, dan keadilan sosial kadang hanya disentuh di permukaan.
Alih-alih menjadi ruang uji intelektual, debat kerap menjadi semacam kontes retorika. Kandidat yang piawai merangkai kata lebih unggul, meski belum tentu memiliki rekam jejak atau pemahaman mendalam soal isu.
Peran Media dan Publik
Media massa punya tanggung jawab penting dalam menilai dan mem-framing jalannya debat. Sayangnya, beberapa media justru ikut memfokuskan perhatian pada hal-hal yang viral: gaya bicara, ekspresi wajah, atau jawaban lucu yang bisa dijadikan meme.
Sementara itu, publik juga perlu lebih kritis. Debat bukan sekadar hiburan politik. Harus ada kesadaran bahwa apa yang diperdebatkan akan berdampak pada masa depan kehidupan bersama: harga bahan pokok, kesehatan, pendidikan, dan lingkungan hidup.
Perlu Reformasi Debat?
Agar debat tidak kehilangan makna, beberapa hal bisa dipertimbangkan:
- Format debat yang lebih dialogis dan membebaskan diskusi terbuka antar kandidat.
- Moderator yang tak hanya netral, tapi juga tajam dan memahami isu.
- Pemilihan tema debat yang relevan dan dekat dengan kehidupan rakyat.
- Penilaian objektif pasca-debat, bukan berdasarkan popularitas semata.
Debat kandidat semestinya bukan ajang akting politik, melainkan pertarungan gagasan yang jujur dan terbuka. Di tengah kehausan publik akan pemimpin yang kompeten dan berintegritas, debat harus jadi ruang klarifikasi, bukan panggung kosmetik. Jika debat hanya berhenti di level seremoni, maka yang dirugikan bukan cuma demokrasi, tapi juga masa depan bangsa.***
