MENTARI NEWS- Di tengah gencarnya kemajuan teknologi, kejahatan jalanan tetap menghantui ruang-ruang publik. Mulai dari penjambretan, begal, hingga pencurian kendaraan bermotor—fenomena ini tak juga surut, bahkan cenderung berkembang dalam bentuk dan modus yang semakin variatif.
Lalu, bagaimana kecerdasan buatan (AI) dapat berperan dalam menanggulangi masalah ini? Dan lebih jauh lagi, siapa yang bertanggung jawab: penegak hukum, masyarakat, atau teknologi itu sendiri?
Realita Kejahatan Jalanan: Tak Sekadar Soal Kemiskinan
Meskipun banyak yang mengaitkan kejahatan jalanan dengan faktor ekonomi, realitasnya jauh lebih kompleks. Ada campur tangan psikologis, lemahnya pengawasan sosial, hingga minimnya infrastruktur kota yang aman dan terintegrasi. Dan ironisnya, di tengah kota yang makin “cerdas”, keamanan jalanan justru masih penuh celah.
AI dan Penanggulangan Kejahatan: Antara Harapan dan Keterbatasan
Kecerdasan buatan telah digunakan di berbagai kota besar dunia dalam memetakan area rawan kejahatan, mengidentifikasi pola-pola pergerakan pelaku, hingga mendukung CCTV berbasis pengenalan wajah. Indonesia pun perlahan mulai mengadopsi sistem serupa, namun masih terbatas di wilayah tertentu.
Tantangannya bukan hanya soal teknologi—tapi juga pada kesiapan aparat, anggaran, dan sistem hukum yang sering kali tertinggal.
Tanggung Jawab Hukum: Di Mana Negara?
Negara memiliki tanggung jawab penuh dalam menciptakan rasa aman bagi warganya. Namun, saat sistem hukum lamban, aparat kurang sigap, dan vonis pengadilan tidak menciptakan efek jera—masyarakat pun mulai bertanya: siapa yang bisa diandalkan?
Belum lagi soal pemanfaatan teknologi yang tidak merata. Di beberapa kota, pelacakan kendaraan hasil curian bisa dilakukan dalam hitungan jam. Di kota lain, korban justru harus mencari sendiri motornya lewat media sosial.
Tanggung Jawab Sosial: Saatnya Bergerak Bersama
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran dalam mencegah kejahatan. Sistem keamanan lingkungan (siskamling), pelaporan dini, dan edukasi tentang bahaya kejahatan jalanan masih menjadi senjata yang tak bisa diabaikan.
Sayangnya, budaya individualisme yang tumbuh seiring modernisasi justru membuat solidaritas sosial menurun. Warga enggan menegur, enggan melapor, bahkan kadang enggan menolong.
Kejahatan Jalanan di Era AI: Potensi dan Etika
AI bukan solusi tunggal. Penggunaan AI dalam penegakan hukum juga menimbulkan perdebatan etika: bagaimana dengan privasi warga? Apakah sistem AI bisa bebas dari bias? Siapa yang bertanggung jawab jika AI salah mendeteksi?
Meski begitu, bila diatur dengan bijak, AI dapat menjadi mitra penting dalam mencegah kejahatan—bukan hanya dengan pengawasan, tapi juga dalam analisis risiko, penguatan sistem tanggap darurat, dan integrasi data kriminalitas secara nasional.
Keamanan Itu Kolaborasi
Menghadapi kejahatan jalanan di era digital butuh sinergi antara hukum, sosial, dan teknologi. AI bisa menjadi alat bantu yang efektif, tapi tetap butuh sistem hukum yang adil dan masyarakat yang aktif. Jangan sampai teknologi berlari sendirian, sementara keadilan dan rasa aman tertinggal di belakang.***
