Mengenal Cultural Appropriation: Ketika Budaya Diambil Tanpa Rasa Hormat

MENTARI NEWS— Istilah cultural appropriation atau “apropriasi budaya” makin sering terdengar, terutama di media sosial. Tapi apa sebenarnya arti istilah ini, dan mengapa bisa menjadi isu yang sensitif?

Apa Itu Cultural Appropriation?

Cultural appropriation merujuk pada tindakan mengambil atau menggunakan elemen budaya lain—seperti pakaian tradisional, gaya rambut, tarian, simbol, atau musik—oleh kelompok yang bukan bagian dari budaya tersebut, tanpa pemahaman, izin, atau rasa hormat terhadap makna aslinya.

Contohnya bisa berupa seseorang yang mengenakan pakaian adat suku tertentu hanya untuk kebutuhan fashion tanpa tahu maknanya, atau menggunakan simbol budaya sakral untuk konten hiburan.

Kenapa Ini Menjadi Isu Sensitif?

Isu ini menjadi sensitif karena sering kali budaya yang diambil berasal dari kelompok minoritas atau yang secara historis mengalami penindasan, lalu diadopsi oleh kelompok dominan hanya sebagai tren atau hiburan. Hal ini dianggap merendahkan nilai budaya tersebut, bahkan bisa menghapus identitas dan sejarah perjuangan komunitas asalnya.

“Masalahnya bukan sekadar siapa yang memakai, tapi bagaimana dan dengan tujuan apa budaya itu digunakan,” kata seorang aktivis budaya.

Beda Cultural Appropriation vs Cultural Appreciation

Penting untuk membedakan antara appropriation dan appreciation. Appreciation berarti menghargai budaya lain dengan cara belajar, memahami konteks, dan memberikan kredit atau pengakuan yang layak. Sedangkan appropriation cenderung mengabaikan konteks dan bisa melukai perasaan pemilik budaya asli.

Lalu, Haruskah Kita Takut Menyukai Budaya Lain?

Tidak. Menyukai budaya lain adalah hal wajar. Tapi penting untuk dilakukan dengan kesadaran, edukasi, dan rasa hormat. Misalnya, saat ingin memakai pakaian adat, cari tahu sejarah dan artinya. Saat membuat konten dengan elemen budaya, sebutkan sumbernya dan hindari menjadikannya sekadar gimmick.

Dengan begitu, kita bisa menikmati kekayaan budaya dunia tanpa melukai mereka yang memilikinya.***