MENTARI NEWS- Bagi banyak anak muda, musik bukan sekadar hiburan—ia adalah tempat pelarian. Bagi Generasi Z, yang hidup di tengah tekanan akademis, tuntutan karier, dan derasnya arus media sosial, musik menjadi ruang aman untuk menenangkan pikiran, mengekspresikan diri, bahkan menyembuhkan luka batin.
Genre yang dipilih Gen Z sangat beragam. Dari pop, hip-hop, K-pop, hingga indie, pilihan lagu sering mencerminkan suasana hati mereka. Saat sedih, mereka mungkin memilih balada penuh lirik emosional seperti karya Andmesh atau Tulus. Di momen semangat, musik EDM atau rap penuh energi menjadi teman setia. Tak jarang, playlist mereka adalah campuran unik antara lagu lawas dan hits terbaru di platform streaming.
Platform seperti Spotify, YouTube, dan TikTok juga memainkan peran besar. Lagu yang viral di media sosial bisa langsung masuk daftar putar jutaan orang dalam semalam. Bahkan, banyak Gen Z yang menemukan artis favorit mereka bukan lewat radio atau televisi, melainkan dari potongan video berdurasi 15 detik.
Psikolog musik menyebut, kebiasaan mendengarkan musik bagi Gen Z bukan hanya soal selera, tetapi juga bentuk *coping mechanism*. Musik membantu mereka mengatur emosi, merasa dimengerti, dan terkoneksi dengan orang lain yang memiliki pengalaman serupa.
Di era serba cepat ini, musik menjadi bahasa universal yang menyatukan sekaligus menjadi pelarian dari realitas yang melelahkan. Bagi Gen Z, setiap nada adalah cerita, dan setiap lirik adalah pengingat bahwa mereka tidak sendiri.***
