MENTARI NEWS- Upacara Ngaben atas meninggalnya Pak Gurun Putu Sugiarto pada Sabtu (29/8/2026) berlangsung lancar dan khidmat di Desa Pampang Tangguk Jaya, Kecamatan Sungkai Tengah, Kabupaten Lampung Utara, Lampung.
Almarhum Pak Gurun Putu Sugiarto merupakan pemangku Pura Dalem yang telah mengabdikan diri sejak 1980 hingga akhir hayatnya. Almarhum meninggal dunia dalam usia kurang lebih 69 tahun.
Semasa hidupnya, almarhum dikenal sebagai sosok yang mengabdikan diri sebagai pemangku Pura Dalem selama puluhan tahun.
Pelaksanaan upacara Ngaben tersebut tidak hanya menjadi momentum penghormatan terakhir kepada almarhum, tetapi juga menjadi gambaran kuatnya rasa kebersamaan masyarakat. Warga setempat bahu-membahu membantu seluruh rangkaian persiapan dan pelaksanaan upacara.
Kepala Desa Pampang Tangguk Jaya, Ida Bagus Putu, turut hadir dalam prosesi tersebut. Kehadirannya sekaligus sebagai bentuk penghormatan dan ungkapan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.
“Kepergian Pak Gurun Putu Sugiarto tentu menjadi duka bagi keluarga dan masyarakat. Namun, melalui kebersamaan seperti ini, kita menunjukkan bahwa ketika ada warga yang berduka, masyarakat hadir dan saling menguatkan. Inilah nilai gotong royong yang harus terus kita jaga,” ujar Ida Bagus Putu.
Menurutnya, pengabdian almarhum sebagai pemangku selama puluhan tahun merupakan bagian dari perjalanan kehidupan masyarakat setempat yang patut dihormati.
“Beliau telah mengabdikan dirinya selama puluhan tahun. Apa yang beliau lakukan semasa hidup tentu meninggalkan nilai dan keteladanan bagi kita semua. Hari ini kita mengantarkan beliau dengan penuh penghormatan, sekaligus mendoakan agar seluruh rangkaian upacara dapat berjalan dengan baik,” lanjutnya.
Dalam pelaksanaan upacara Ngaben tersebut, turut dihadirkan grup gamelan Mukerti Buana yang dipimpin oleh Pak Ketut Sen dari Sopo Yono. Iringan gamelan menjadi bagian dari suasana sakral dan khidmat selama prosesi berlangsung.
Selain menjadi bentuk penghormatan terakhir, upacara Ngaben memiliki makna penting dalam ajaran Hindu, salah satunya berkaitan dengan pengembalian unsur Panca Maha Bhuta yang menjadi bagian dari tubuh manusia.
Panca Maha Bhuta terdiri dari lima unsur, yakni pertiwi (tanah), apah (air), teja (api), bayu (udara), dan akasa (ruang). Dalam pemaknaannya, manusia berasal dari unsur-unsur alam dan pada akhirnya akan kembali kepada alam.
Nilai tersebut menjadikan upacara Ngaben bukan semata-mata sebuah prosesi kematian, melainkan juga menjadi pengingat bagi manusia yang masih hidup tentang siklus kehidupan.
“Upacara ini mengajarkan kepada kita bahwa kehidupan pada akhirnya akan kembali kepada asalnya. Yang kita bawa bukan harta benda, melainkan kebaikan, pengabdian, dan nilai yang kita tinggalkan selama hidup,” demikian makna yang tercermin dalam pelaksanaan upacara tersebut.
Rangkaian upacara berlangsung dengan tertib dan lancar. Hal tersebut tidak terlepas dari peran keluarga, tokoh masyarakat, perangkat desa, serta warga yang secara bersama-sama membantu pelaksanaan kegiatan.
Kebersamaan masyarakat Pampang Tangguk Jaya dalam upacara tersebut menjadi bukti bahwa tradisi dan nilai gotong royong masih terus dijaga.
Di tengah suasana duka, masyarakat hadir bukan hanya untuk menyaksikan, tetapi juga mengambil bagian dalam mengantarkan almarhum menuju tahapan akhir perjalanan kehidupannya.
“Selamat jalan Pak Gurun Putu Sugiarto. Semoga seluruh rangkaian upacara sesuai dengan tuntunan agama dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan.”***
Penulis: Erwan Ependi
