MENTARI NEWS- Di tengah hiruk pikuk tren fesyen global yang terus berubah dari hari ke hari, satu pertanyaan penting mulai mencuat: ke mana perginya pakaian tradisional kita?
Dulu, kain batik, kebaya, ulos, songket, dan berbagai busana adat lainnya menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Indonesia. Namun kini, penggunaannya seolah hanya terbatas pada acara seremonial atau sekadar kewajiban pada hari tertentu. Apakah pakaian tradisional kita mulai kehilangan tempatnya? Atau justru sedang menanti panggung baru untuk bersinar?
Dari Simbol Identitas ke Simbol Formalitas
Pakaian tradisional tidak hanya soal kain dan corak. Ia adalah simbol identitas, sejarah, dan nilai-nilai luhur suatu daerah. Dalam setiap lipatan kebaya atau tenunan kain daerah, tersimpan filosofi tentang kehidupan, hubungan manusia dengan alam, hingga status sosial dan spiritualitas.
Namun, modernisasi dan dominasi budaya pop asing secara perlahan menggeser persepsi itu. Kini, banyak anak muda mengenal brand luar lebih dalam daripada sejarah baju adat daerahnya sendiri. Pakaian tradisional berubah fungsi: dari simbol keseharian menjadi “kostum resmi” di peringatan hari nasional.
Gaya Hidup Instan dan Efek Media Sosial
Dalam era digital, gaya berpakaian ditentukan oleh tren media sosial. Cepat, praktis, dan “Instagrammable” jadi kunci utama. Tak heran jika pakaian tradisional yang rumit dan memerlukan perawatan khusus kalah pamor dengan outfit kasual masa kini.
Padahal, jika dikemas dengan cara yang tepat, busana tradisional bisa menjadi tren global, seperti halnya kimono Jepang atau hanbok Korea yang kini banyak diadopsi dan dipopulerkan kembali oleh generasi muda mereka sendiri.
Upaya Pelestarian: Mampukah Bangkit Lagi?
Meski perlahan terpinggirkan, harapan belum sepenuhnya hilang. Beberapa desainer lokal mulai menyatukan elemen tradisional dengan gaya modern. Kain batik dijadikan jaket streetwear. Songket dipadukan dengan gaya kasual anak muda. Bahkan ada kampanye digital yang menggugah semangat memakai busana tradisional sebagai bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Selain itu, kebijakan pemerintah yang mendorong pemakaian pakaian adat di sekolah atau instansi juga memberi ruang bagi budaya lokal untuk tetap hadir di ruang publik.
Menjadi Modern Tanpa Kehilangan Akar
Menjadi generasi modern bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru, identitas budaya bisa menjadi pembeda yang memperkaya karakter bangsa. Pakaian tradisional adalah warisan—bukan sekadar benda masa lalu, tapi bagian dari siapa kita hari ini dan esok.
Pakaian tradisional bukan untuk disimpan dalam lemari kaca museum. Ia layak berjalan kembali di jalanan, di panggung dunia, dan dalam keseharian masyarakat kita. Bukan hanya sebagai bentuk estetika, tetapi sebagai pengingat: kita punya akar, punya cerita, dan punya identitas yang tak boleh hilang.***
