MENTARI NEWS- Indonesia dikenal sebagai negara maritim dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia dan kekayaan laut yang melimpah. Namun ironisnya, sektor perikanan dan kelautan di banyak daerah masih berjalan tertatih. Di sisi lain, kecerdasan buatan (AI) mulai merambah berbagai sektor, termasuk pertanian, transportasi, bahkan perbankan. Tapi, bagaimana dengan laut kita?
Potensi yang Melimpah, Pemanfaatan yang Minim
Data Kementerian Kelautan dan Perikanan menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi lestari ikan tangkap sebesar lebih dari 12 juta ton per tahun. Sayangnya, pemanfaatannya baru mencapai 70 persen. Di banyak daerah pesisir, nelayan masih menggunakan metode tradisional, menghadapi cuaca tanpa prediksi akurat, dan menjual hasil tangkapan tanpa sistem pasar yang adil.
Nelayan seperti Pak Muis di pesisir Lampung Selatan mengaku masih mengandalkan insting saat melaut. “Kami tidak tahu pasti lokasi ikan atau kapan cuaca memburuk. Kadang rugi besar karena pulang tanpa hasil,” ujarnya.
AI sebagai Solusi Lautan
Teknologi berbasis kecerdasan buatan sebenarnya telah mulai digunakan di beberapa negara untuk membantu nelayan kecil. AI dapat memprediksi pergerakan ikan, memantau kualitas air laut, mendeteksi aktivitas ilegal di laut, hingga mengatur rantai pasok dari laut ke pasar.
Startup lokal seperti eFishery dan FishGo sudah membuktikan bahwa AI dapat menjembatani kebutuhan tradisional dengan inovasi modern. Sayangnya, penetrasi teknologi ini masih sangat terbatas pada wilayah tertentu dan belum merata ke daerah-daerah terpencil.
Masalah Infrastruktur dan Kesenjangan Teknologi
Salah satu hambatan terbesar adalah ketersediaan infrastruktur digital. Banyak daerah pesisir belum terjangkau sinyal internet stabil, listrik belum merata, dan keterampilan digital nelayan masih sangat rendah.
“Percuma bicara AI kalau nelayannya belum punya akses internet,” kata Dr. Ardiansyah, pakar teknologi maritim dari ITS.
Langkah Nyata Pemerintah dan Swasta
Pemerintah sebenarnya sudah meluncurkan program Smart Fisheries Village yang menggabungkan teknologi, pendidikan, dan ekosistem ekonomi kelautan. Namun pelaksanaannya belum serentak, dan masih minim dukungan dari sektor swasta.
Di sisi lain, kolaborasi antara akademisi, startup, dan komunitas nelayan dinilai krusial. Pelatihan digital, pemberdayaan koperasi nelayan, serta pembukaan akses teknologi harus jadi prioritas jika Indonesia ingin menjadi poros maritim dunia bukan hanya di atas kertas.
Lautan Cerdas, Masa Depan Cerah
Kecerdasan buatan bukan solusi tunggal, tapi ia bisa menjadi alat transformasi jika dibarengi dengan niat politik, edukasi, dan pemerataan teknologi. Indonesia punya kekayaan laut, tapi tanpa inovasi dan pemberdayaan, potensi itu akan terus jadi cerita usang.
Saatnya menjadikan AI bukan sebagai ancaman, tapi sebagai mitra strategis untuk membangun laut yang lebih cerdas dan adil bagi semua.***
