PORTAL ASPIRASI- Curah hujan tinggi yang kembali memicu banjir di Kota Bandar Lampung memunculkan kembali kritik tajam terhadap penanganan infrastruktur perkotaan, khususnya sistem drainase yang dinilai belum optimal. Kondisi ini disebut telah menimbulkan dampak serius bagi warga maupun petugas di lapangan.
Salah satu sorotan datang dari insiden yang menimpa Aulia Rahman, seorang petugas BPBD yang mengalami cedera serius saat bertugas di tengah kondisi banjir. Peristiwa tersebut kembali mengangkat perdebatan publik mengenai kesiapsiagaan dan prioritas pembangunan kota.
Sejumlah pihak menilai, jika sistem drainase dan infrastruktur jalan ditangani lebih serius sejak awal, risiko banjir berulang dapat diminimalkan. Namun, hingga kini, persoalan genangan air di sejumlah titik di Bandar Lampung masih terus terjadi setiap musim hujan.
Kritik juga diarahkan pada pola pengelolaan anggaran dan prioritas pembangunan daerah. Warga menilai masih terdapat ketimpangan antara alokasi untuk infrastruktur dasar dengan sektor lain, sehingga berdampak langsung pada pelayanan publik dan keselamatan masyarakat.
Di tengah situasi tersebut, masyarakat berharap pemerintah kota lebih fokus pada upaya konkret seperti perbaikan dan perluasan drainase, normalisasi aliran air, serta penataan ruang yang berorientasi pada mitigasi banjir jangka panjang.
Para pemerhati kebijakan publik menekankan bahwa penanganan banjir tidak cukup hanya bersifat responsif saat kejadian, tetapi harus berbasis perencanaan yang matang, berkelanjutan, dan mengutamakan keselamatan warga.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah kota belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik dan sorotan yang berkembang di masyarakat.***
