FPI VS Tito Karnavian

FPI VS Tito Karnavian

Desember 1, 2019 Off By Redaksi Mentari News

MENTARI NEWS – Polemik perpanjangan status SKT FPI kembali menghangat, pasalnya rezim melalui Tito Karnavian ngotot menuding FPI terpapar khilafah. Dalam pasal 6 AD ART FPI, mengandung misi untuk menegakan khilafah. Ini, yang dijadikan dalih untuk mengganjal SKT FPI.

Rezim sendiri, membahasakan SKT (Surat Keterangan Terdaftar) sebagai Surat Izin. Padahal, menurut konstitusi dan UU, menjalankan kebebasan berserikat, berkumpul dan menyatakan pendapat itu Hak konstitusional, tidak Peru izin. Bagaimana mungkin, orang menjalankan hak butuh izin ?

UU Ormas sendiri, setelah diubah menjadi UU No. 16/2017, juga tak menyebut nomenklatur izin. Yang ada, hanya status terdaftar atau berbadan hukum. Jika terdaftar, domainnya ada di Kemendagri dibuktikan dengan SKT. Jika badan hukum (BH), domainnya di Kemenkumham bisa berbentuk BHP atau Yayasan.

Penyebutan ‘izin’ untuk ormas, itu menandakan bahwa rezim tak paham hukum sekaligus ada motif dari rezim untuk mengekang kebebasan berserikat dan berkumpul juga menyatakan pendapat bagi masyarakat. Seolah, kalau mau berkumpul dan menyatakan pendapat wajib dapat izin penguasa.

Tito Belajarlah ke FPI tentang Khilafah

Pada kasus FPI ini saya setuju, Tito lebih baik belajar khilafah kepada FPI. Diskusi dengan FPI sebelum memproduksi narasi kebencian terhadap FPI juga terhadap khilafah. Jangan menjelaskan terminologi khilafah sesuai kehendak orang barat, China atau Amerika. Kalau mendefinisikan khilafah sebagai ISIS, membunuh, anti kebhinekaan, kekerasan, intoleran, nah itu semua doktrin barat kafir yang ingin mendeskreditkan ajaran Islam. Membahas khilafah khilafah itu ya harus berguru pada ulama dan merujuk Al Quran dan as Sunnah.

Misalnya, belajar dan mencari tahu pendapat Imam Malik tentang wajibnya khilafah. Cari tahu, apa pendapat mahzab Hanafi, Hambali dan Syafi’i yang ijma’ atas wajibnya khilafah.

Nah untuk tahu itu semua, cukup lah Tito karnafvian ketemu FPI. Belajar sama FPI. FPI punya banyak stok ulama yang bisa menjelaskan khilafah kepada Tito. Malau Tito ogah ketemu, terus terusan membuat pernyataan sepihak yang mendeskreditkan FPI dan khilafah, ya siap-siap saja berhadapan dengan umat. Umat ini jelas lebih cinta FPI ketimbang Tito Karnavian. Lagipula, umat ini juga paham mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang tulus membela umat atau hanya menjadi antek rezim. Semua telanjang dan mudah dikenali.

FPI telah dirasakan peran dan kiprahnya, dalam membela umat Islam. Sementara Tito, selama menjabat Kapolri tak henti-hentinya membuat sesak dada umat Islam. Sekarang, jabatannya Mendagri tapi sikapnya terhadap umat Islam tidak berubah.

Ditulis oleh: Nasrudin Joha