Pemerintah Jokowi Berhutang Besar Pada Muhammadiyah dan NU

Pemerintah Jokowi Berhutang Besar Pada Muhammadiyah dan NU

Desember 27, 2019 Off By Redaksi Mentari News

MENTARI NEWS – Jagad raya sosial media lagi diramaikan dengan berita pidato curhat setengah kesel Ketua Umum Nahdhatul Ulama (NU) Said Aqil Siraj.

SAS benar-benar curhat ke jama’ahnya dalam sebuah tabligh bahwa pemerintah dalam hal ini menteri keuangan Sri Mulyani ternyata INGKAR JANJI. Janji mau sumbang 1,5 T tapi sampai saat ini nihuk bin nohil.

Di bumi pertiwi ada dua ORMAS ISLAM terbesar hidup dengan cara, karakter dan style serta manhaj masing-masing. Pendukungnya dari kedua ORMAS ini hampir sepertiga penduduk muslim di negeri ini. Mereka adalah Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama NU.

Kedua ORMAS berusaha sumbangkan kemampuan membangun negeri.

Kalau NU selalu dengan Slogan NKRI Harga Mati dan kalau Muhammadiyah dengan slogan mengabdi pada bangsa dengan ikhlas melalui kesehatan, sosial dan pendidikan. Ibarat tentara, NU memposisikan diri sebagai pasukan pemukul, pengintai dan penjaga negeri. Kalau Muhammadiyah sebagai pasukan pengisi negeri agar negara tetap eksis sebagai sebuah negara. Negara tidak bisa menafikan peran kedua ORMAS ini. Mereka punya peranan cukup signifikan dalam negeri. Berani penguasa negeri melawan kedua ormas ini dan menabuh genderang perang maka tamatlah penguasa tersebut. Maka dari itu siapapun yang berkuasa pasti bergandeng tangan mesra dengan penguasa negeri.

Namun akhir-akhir ini ada dualisme perhatian penguasa atau pemerintah yang menjurus pada ketidakadilan terhadap dua ormas ini. Yang satu yakni NU mendapat suntikan dana yang menggiurkan 1,5 T dan yang satu lagi yakni Muhammadiyah, pemerintah berhutang melalui BPJS 1,2 T. Sama-sama bernilai triliyunan tapi bedanya kayak bumi dan langit masalahnya.

Muhammadiyah sejak dilahirkan, memang, tidak pernah membebani pemerintah dan negara. Belum pernah kedengaran pemerintah membantu Muhammadiyah bernilai miliaran apalagi triliyunan rupiah. Dan Muhammadiyah pun tidak pernah mengemis kepada pemerintah agar bisa dibantu. Didikan Kyai Ahmad Dahlan kepada kader-kader Muhammadiyah sejak awal manjadi jiwa yang mandiri, berdikari, tangguh dan pantang menyerah serta mengemis kepada siapapun masih berlaku sampai sekarang. Oleh karena itu jangan heran kalau pemerintah berhutang sama MD 1,2 Triliun melalui BPJS. Sebaliknya terjadi pada NU, ketua umumnya lagi risau, resah dan gelisah janji Bu Sri Mulyani 1,5 triliun tidak terwujud sepersenpun. Padahal melaui wawancara di TV One dari pihak Kementrian Keuangan janji itu sudah mulai ditepati dengan mentelontorkan aecara angsuran 200 miliar pada salah satu koperasi PCNU di Jawa ini. Itulah bedanya organisasi dibangun dengan disiplin, modern, amanah, profesional dan bertanggung jawab. Dengan organisasi dibangun dengan sistem dinasti dan menejment keluarga.

Umur Muhammadiyah sudah 107 tahun perhitungan masehi. Sampai saat ini makin berkembang aset organisasi dibidang kesehatan dan pendidikan. Dengan kasus ingkar janji ini maka terlihat dengan jelas mana ormas yang membangun negeri dan mana ormas yang membebani negeri. semoga pemerintah sebelum memenuhi janji ke NU, bayar dulu hutang BPJS ke Persyarikatan Muhammadiyah.

Tapi kayaknya semua orang kurang yakin pemerintah bisa membayar hutangnya ke Muhammadiyah, apalagi memenuhi janjinya ke NU. Yah, uang pinjaman DANA HAJI, DANA RAKYAT BPJS dan dana² lainnya belum bisa dibayar bagaimana bisa membayar duit hutang ke Muhammadiyah.?

Apalagi pemerintah sekarang tersandung kasus korupsi 13,74 triliun uang asuransi jiwasraya. Wah makin sulit dech mau bayar. Inilah kalau kekuasaan didapatkan dengan cara dzalim dan curang. Akhirnya tersiksa dalam menjalaninya.

Penulis: Muh. Naufal Dunggi (Ketua LDK PWM DKI dan Ustadz Kampung).