Pendidikan Kaum Tertindas Tentang Antidialogika dan Dialogika

Pendidikan Kaum Tertindas Tentang Antidialogika dan Dialogika

Desember 2, 2019 Off By Redaksi Mentari News

MENTARI NEWS – Kali ini kita akan membahas buku tentang pendidikan kaum tertindas, pencipta Paulo Freire. Di dalam bab ini, Freire kembali menegaskan bahwa manusia sebagai makhluk praksis, berbeda dengan binatang yang merupakan makhluk sekedar berbuat. Binatang tidak memikirkan dunia; mereka tenggelam di dalamnya. Sebaliknya manusia muncul dari dunia, mengenalinya, dan dengan cara itu dapat memahami dan mengubah dunia melalui karya mereka.

Para pemimpin tidak boleh memperlakukan kaum tertindas hanya sebagai pelaku yang tidak diberi kesempatan untuk melakukan refleksi. Di samping itu, mereka dibiarkan dalam ilusi bertindak agar dapat mempertahankan posisi mereka sebagai objek dari manipulasi.

Paulo freire, membadingkan antara pendidikan antidialogis dan pendidikan dialogis. Model pendidikan antidialogis selalu ditandai dengan usaha menguasai manusia, sedangkan model pendidikan dialogis selalu bersifat kooperatif (kerjasama).

PENDIDIKAN ANTIDIALOGIS

A. PENAKLUKAN

Watak pertama dari antidialogis adalah keharusan adanya penaklukan dalam hubungan dengan manusia lain. Hubungan terjadi sedikit demi sedikit dengan segala cara, dari yang paling kasar hingga paling halus, dari yang paling menekan sampai paling tidak terasa. Hal tersebut bertujuan agar menghadirkan “dunia palsu” bagi pemikiran kaum tertindas untuk menambah keterasingan dan pasifitas mereka. Kaum penindas mengembangkan suatu rangkaian metode yang menghindari semua bentuk penyajian dunia sebagai masalah. Justru sebaliknya, kaum penindas menghadirkan dunia sebagai sesuatu yang mati dan menciptakan manusia hanya sebagai penonton atas dunia kehidupannya. Di samping itu, kaum penindas juga harus menyesuaikan diri dengan tujuan untuk mendekati rakyat agar mereka tetap pasif terhadap situasi penaklukan. Pendekatan yang dilakukan kaum penindas ini tentu saja tidak bertujuan untuk melebur bersama rakyat maupun menuntut adanya komunikasi, melainkan bertujuan untuk melakukan penaklukkan.

Cara yang mereka lakukan ialah dengan membangun mitos-mitos untuk dikonsmumsi oleh kaum tertindas. Contohnya, siapapun yang rajin bekerja dapat menjadi pengusaha. Mitos lain ialah persamaan derajat manusia dengan membangun pertanyaan, “tahukah kamu berbicara dengan siapa?” masih berlaku di antara kita (Freire, 2008: 150).

B. PECAH DAN KUASAI

Cara ini merupakan dimensi penting yang lain dari teori tindakan menindas yang selaras dengan penindasan itu sendiri. Setelah minoritas kaum penindas menaklukkan dan menguasai mayoritas rakyat, mereka harus memecah belah dan menjaga agar tetap seperti itu. Hal ini dilakukan dengan berbagai cara, dari metode penekanan melalui birokrasi pemerintah hingga bentuk-bentuk kebudayaan. Misalnya, dalam bentuk aksi kebudayaan, mereka memanipulasi rakyat dengan memunculkan kesan seolah-olah sedang memberi pertolongan.

Misalnya, pemerintah menciptakan proyek “pengembangan masyarakat”, yang mana suatu daerah dipecah menjadi “masyarakat-masyarakat lokal” tanpa melakukan pengkajian mendalam dengan masyarakat itu sendiri. Pemecahan tersebut dilakukan dengan menciptakan totalitas sebagai masyarakat lokal maupun sebagai bagian dari totalitas lain yakni, daerah, wilayah, dan sebagainya. Kemudian, kedua bentuk totalitas tersebut dihubungkan ke dalam totalitas yang lebih besar lagi (bangsa, sebagai bagian dari totalitas continental). Dampak dari pemecahan tersebut mengakibatkan semakin lebarnya keterasingan masyarakat. Semakin jauh rakyat terasing, semakin mudah untuk memecah belah dan memelihara perpecahan tersebut. Dengan menekankan cara hidup yang terkotak-kotak dari kaum tertindas (terutama di daerah pedalaman), menghalangi kaum tertindas untuk memahami realitas kehidupan secara kritis dan menjauhkan mereka dari masalah-masalah penindasan di daerah lain.

C. MANIPULASI

Manipulasi adalah dimensi lain dari teori tindakan antidialogis dan seperti halnya strategi pemecahan, manipulasi juga merupakan alat untuk menaklukkan; tujuan di mana semua dimensi teori berkisar. Dengan cara manipulasi, elite penguasa berusaha membuat rakyat menyesuaikan diri dengan tujuan-tujuan mereka. Semakin rendah kesadaran politik rakyat (di desa maupun kota), semakin mudah mereka dimanipulasi oleh elit penguasa yang tidak ingin kehilangan kekuasaannya. Contohnya, rakyat dimanipulasi dengan cara menciptakan mitos-mitos yang telah dikemukakan di atas.

Dalam konteks penindasan, rakyat yang masuk sebagai golongan kaum tertindas hanya memiliki dua kemungkinan untuk memasuki proses sejarah: apakah mereka berorganisasi secara murni bagi pembebasan dirinya, atau mereka akan dimanipulasi oleh kaum elite. Organisasi murni sudah tentu tidak ditimbulkan oleh kaum penguasa; ini merupakan tugas para pemimpin revolusi.

D. SERANGAN BUDAYA

Teori tindakan antidialogis memiliki ciri-ciri terakhir dan menjadi komponen terpenting yakni serangan budaya. Serangan budaya dapat dipahami seperti halnya taktik memecah belah, manipulasi, serta melayani tujuan penaklukkan. Dalam gejala ini para penyerang menyusup ke dalam lingkungan kebudayaan kelompok lain dan tanpa menghiraukan potensi kebudayaan tersebut. Mereka memaksakan pandangan dunianya sendiri kepada orang-orang yang mereka serang dan menghambat kreatifitas kaum yang diserang dengan mengendalikan ungkapan-ungkapan kejiwaan mereka.

Penaklukkan budaya mengakibatkan ketidak murnian dari mereka yang diserang; mereka kemudian melayani nilai-nilai, patokan-patokan, serta tujuan-tujuan para penyerang. Hal ini bertujuan untuk mencetak orang lain sesuai dengan pola dan gaya hidupnya.

PENDIDIKAN DIALOGIS 

A. KERJA SAMA

Dalam tindakan dialogis, para pelaku berkumpul dan bekerja sama untuk merubah dunia. Hal ini berarti bahwa dalam tugas dialogis tidak ada peran bagi kepemimpinan revolusi. Itu hanya berarti para pemimpin –terlepas dari perannya yang penting, mendasar, dan tidak terelakkan– tidak memiliki rakyat dan tidak berhak menyetir rakyat. Kerja sama sebagai suatu ciri dari tindakan dialogis –yang berlangsung hanya di antara pelaku-pelaku (yang tentunya dari berbagai tingkat dengan bertanggung jawab)– hanya dapat dicapai melalui komunikasi. Dialog tidak memaksakan, memanipulasi, menjinakkan, serta tidak hanya sekedar “slogan”. Namun demikian, itu tudak berarti bahwa teori tindakan dialogis tidak mempunyai tujuan; tidak juga berarti bahwa manusia dialogis tidak memiliki gagasan yang jelas mengenai apa yang dikehendakinya, atau tujuan-tujuan yang menjadi kepentingannya.

B. PERSATUAN UNTUK PEMBEBASAN

Dalam teori dialogis para pemimpin harus menyerahkan dirinya dalam usaha tanpa kenal lelah bagi persatuan kaum tertindas –dan persatuan para pemimpin dan kaum tertindas– untuk mencapai pembebasan. Kesulitannya adalah bahwa kategori tindakan dialogis ini (seperti juga yang lain) tidak dapat terwujud di luar praksis. Praksis penindasan itu mudah bagi elite penguasa; namun tidak mudah bagi para pemimpin revolusi untuk melakukan praksis pembebasan.

C. ORGANISASI

Dalam teori tindakan dialogis organisasi rakyat merupakan lawan antagonistis (bertentangan dengan dialogis) dari manipulas ini. Organisasai bukan hanya berkaitan langsung dengan persatuan, namun juga merupakan perkembangan yang wajar dari persatuan ini. Oleh karena itu, usaha para pemimpin dalam hal persatuan niscaya juga suatu usaha untuk mengorganisasi rakyat, yang menuntut kesaksian bagi kenyataan bahwa perjuangan bagi pembebasaan adalah tugas bersama, kesaksian yang mantap, rendah hati, serta keberanian yang keluar dari kerja sama dalam suatu usaha bahu-membahu –dalam pembebasan manusia– menjauhkan dari bahaya praktek antidialogis.

D. SINTESA KEBUDAYAAN

Aksi kebudayaan senantiasa merupakan suatu bentuk tindakan yang sistematis dan terencana yang ditujukan pada struktur sosial, baik dengan tujuan melestarikan maupun mengubahnya. Aksi budaya dialogis tidak mempunyai sasaran hilangnya dialektika keajekkan perubahan (suatu sasaran yang tidak mungkin sebab hilangnya dialektika tersebut akan menuntut hilangnya struktur sosial itu sendiri dan dengan demikian manusianya); melainkan sasarannya adalah mengatasi berbagai kontradiksi antagonistis dalam struktur sosial tersebut.

Penulis: Donyka. Mahasiswa Sastra Indonesia UAD