MENTARI NEWS- Setiap tahun, berita tentang perundungan di sekolah kembali mencuat—dari kekerasan verbal hingga fisik, dari ejekan ringan hingga tindakan yang meninggalkan trauma jangka panjang. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan tumbuh, justru berubah menjadi medan tekanan sosial. Pertanyaannya: apakah ini sekadar perilaku nakal anak-anak, atau gejala dari kegagalan sosialisasi yang lebih dalam?
Sekolah: Tempat Belajar atau Bertahan?
Bagi sebagian siswa, datang ke sekolah bukan soal menimba ilmu, melainkan bertahan dari tekanan lingkungan sosial yang menyesakkan. Bullying bisa muncul dalam bentuk halus seperti pengucilan atau komentar menyakitkan, hingga kekerasan terbuka yang terekam dan tersebar di media sosial. Tak jarang, pelaku merasa tindakannya “biasa saja” atau sekadar lelucon, sementara korban menanggung beban psikologis yang panjang.
Gagalnya Pendidikan Karakter
Ironisnya, perundungan kerap terjadi di tengah kampanye pendidikan karakter yang gencar. Modul-modul soal empati, toleransi, dan kerja sama ada di kurikulum, tapi implementasinya sering minim. Siswa belajar nilai-nilai di atas kertas, tapi tak menginternalisasi dalam perilaku sehari-hari. Ini menunjukkan ada yang salah dalam cara sekolah dan lingkungan mendidik anak: banyak yang hafal nilai, tapi tak mampu mempraktikkannya.
Cerminan Sosial yang Lebih Luas
Perundungan bukan hanya masalah individu, tapi cerminan dari lingkungan sosial yang permisif terhadap kekerasan dan ketimpangan relasi kuasa. Anak-anak meniru apa yang mereka lihat—di rumah, di media, dan bahkan di ruang publik. Ketika masyarakat mentoleransi pelecehan, diskriminasi, atau kekerasan verbal, anak pun belajar bahwa menindas adalah cara untuk menunjukkan superioritas.
Di Mana Peran Guru dan Orang Tua?
Seringkali perundungan berlangsung dalam diam, karena korban takut melapor dan guru tidak cukup peka mengenali tanda-tandanya. Guru dan orang tua harus menjadi garda depan pencegahan: membangun komunikasi terbuka, menciptakan iklim sekolah yang inklusif, dan menanamkan nilai keberagaman sejak dini. Respons cepat dan tegas terhadap kasus bullying juga penting untuk menunjukkan bahwa kekerasan tidak bisa ditoleransi.
Menuju Sekolah yang Aman dan Manusiawi
Mengatasi perundungan tak cukup dengan menindak pelaku, tapi juga memperbaiki sistem. Sekolah harus menjadi tempat yang menghargai perbedaan, mendorong empati, dan membentuk relasi yang sehat antarindividu. Pendidikan karakter harus dihidupkan dalam keseharian, bukan sekadar slogan atau upacara formal.
Perundungan di sekolah adalah alarm keras bahwa sistem sosialisasi kita sedang tidak baik-baik saja. Ini bukan hanya tugas guru atau siswa, tetapi tanggung jawab kolektif—orang tua, sekolah, dan masyarakat—untuk membentuk generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga beradab.***












