Kritik Pendidikan dalam Puisi Metaforis Penyair Muda Lampung

banner 468x60

MENTARI NEWS- Puisi “Belajar Patuh Pada Bangku Goyah” karya penyair muda asal Kota Bandar Lampung menghadirkan kritik sosial terhadap dunia pendidikan dengan pendekatan metaforis yang lugas dan bernuansa ironis, menyoroti ketimpangan antara ajaran disiplin di sekolah dan praktik institusional yang justru bertolak belakang.

Puisi ini berangkat dari gambaran umum pengalaman bersekolah yang akrab bagi hampir semua orang. Sekolah diposisikan sebagai ruang pembentukan karakter, terutama disiplin. Sejak awal, penyair menekankan bahwa kepatuhan menjadi nilai utama yang ditanamkan guru kepada murid, mulai dari penampilan fisik hingga perilaku sehari-hari. Rambut, kaos kaki, cara berjalan, dan tata krama makan digambarkan sebagai simbol kontrol yang melekat dalam sistem pendidikan formal.

banner 336x280

Namun, suasana normatif tersebut mulai terguncang ketika puisi beralih pada realitas yang lebih konkret. Penyair memperkenalkan kontras tajam antara idealisme pendidikan dan praktik di lapangan. Ketidakpatuhan yang disorot bukan berasal dari murid, melainkan dari institusi sekolah itu sendiri. Peralihan ini menjadi inti kritik puisi, karena membalik relasi kuasa yang selama ini dianggap wajar: sekolah menuntut patuh, tetapi tidak sepenuhnya patuh pada aturan yang mengikatnya.

Penyair kemudian mengaitkan ketidakpatuhan tersebut dengan sikap arogansi. Dalam larik-larik singkat dan langsung, arogansi digambarkan sebagai akar persoalan yang mendorong sekolah masuk dalam pusaran investigasi. Di sini, puisi tidak lagi sekadar refleksi moral, melainkan juga menyentuh ranah sosial dan hukum, menyinggung isu akuntabilitas lembaga pendidikan di ruang publik.

Keberanian penyair tampak jelas saat menyebut secara eksplisit nama sekolah dan tokoh publik yang terlibat. Strategi ini menjauhkan puisi dari simbolisme abstrak dan menempatkannya sebagai kritik terbuka. Penyebutan nama menjadikan puisi ini bukan hanya karya sastra, tetapi juga catatan sosial yang merekam kegelisahan publik terhadap kebijakan pendidikan dan relasi kekuasaan di tingkat lokal.

Dari sisi estetik, puisi ini menggunakan bahasa yang sederhana, dengan larik-larik pendek dan struktur yang nyaris seperti laporan. Pilihan gaya ini memperkuat kesan kejujuran dan kedekatan dengan realitas sehari-hari. Tidak ada metafora rumit atau diksi elitis, sehingga pesan kritik dapat diterima pembaca lintas latar belakang.

“Belajar Patuh Pada Bangku Goyah” menegaskan bahwa disiplin tidak seharusnya menjadi tuntutan sepihak. Pendidikan, sebagaimana disiratkan penyair, menuntut konsistensi moral dari semua pihak. Sekolah sebagai institusi publik dituntut memberi teladan sebelum menuntut kepatuhan dari peserta didik. Melalui puisi ini, penyair muda Bandar Lampung menempatkan sastra sebagai medium kontrol sosial dan pengingat bahwa bangku pendidikan yang rapuh perlu digoyahkan agar kebenaran tidak terus diredam oleh kekuasaan.***

banner 336x280