MENTARI NEWS— Dalam era media sosial yang serba cepat dan terbuka, istilah cancel culture atau “budaya pembatalan” makin sering muncul. Dari selebritas, politisi, influencer, hingga tokoh publik lainnya, tak sedikit yang menjadi sasaran cancel karena pernyataan atau tindakan mereka dianggap kontroversial. Tapi, apa sebenarnya arti cancel culture, dan mengapa gerakan ini menimbulkan pro dan kontra?
Apa Itu Cancel Culture?
Cancel culture adalah praktik sosial di mana seseorang atau kelompok diboikot secara publik—baik melalui media sosial maupun secara luas di ruang publik—karena dianggap melakukan kesalahan moral, sosial, atau politik. Tujuannya: memberi sanksi sosial dan memutus dukungan terhadap mereka yang dinilai melanggar nilai atau norma publik.
Contohnya bisa berupa seruan untuk tidak menonton film aktor tertentu, tidak membeli produk dari tokoh kontroversial, atau bahkan menghapus jejak digital mereka.
Pro: Bentuk Akuntabilitas Sosial
Pendukung cancel culture menilai praktik ini sebagai bentuk kontrol sosial dari publik terhadap tokoh berpengaruh yang dinilai menyalahgunakan kekuasaan atau menyebarkan pengaruh buruk.
“Cancel culture memungkinkan suara publik menuntut pertanggungjawaban, terutama ketika sistem hukum lambat atau diam,” ujar seorang aktivis media.
Gerakan ini juga dianggap memperkuat kelompok yang sebelumnya tak punya akses ke kekuasaan, seperti korban kekerasan, diskriminasi, atau ujaran kebencian.
Kontra: Penghakiman Tanpa Proses
Di sisi lain, kritik terhadap cancel culture menyebut praktik ini sebagai bentuk peradilan massa tanpa proses yang adil. Seseorang bisa “dihukum” hanya karena potongan video, unggahan lama, atau opini yang dipelintir. Tak jarang juga cancel culture berubah menjadi perundungan digital (cyberbullying).
“Ada perbedaan antara akuntabilitas dan pembunuhan karakter,” kata seorang pakar komunikasi digital.
Fenomena ini bisa menyebabkan trauma psikologis, kehilangan pekerjaan, dan rusaknya reputasi, bahkan setelah orang tersebut meminta maaf atau menunjukkan perubahan sikap.
Lalu, Apa Solusinya?
Cancel culture adalah cermin dari dinamika masyarakat digital—cepat bereaksi, namun rentan melewati proses refleksi. Daripada “membatalkan” orang, sebagian kalangan mengusulkan pendekatan “call-in culture”, yaitu mengajak berdialog dan mendidik secara empatik.
Karena pada akhirnya, perubahan sosial yang sehat butuh ruang belajar, bukan sekadar ruang menghukum.***













