MENTARI NEWS- Di tengah dinamika politik nasional yang terus bergerak, satu pertanyaan terus mengemuka: perlukah anak muda terjun ke politik praktis? Bagi sebagian orang, politik masih dianggap kotor, penuh intrik, dan jauh dari idealisme. Namun, justru karena itulah anak muda perlu hadir—bukan untuk ikut-ikutan, tetapi untuk membawa perubahan dari dalam.
Bukan Sekadar Ikut Ramai di Media Sosial
Anak muda saat ini aktif menyuarakan isu sosial, lingkungan, dan keadilan lewat media sosial. Namun, apakah cukup berhenti di sana? Politik praktis adalah jalan riil untuk mengubah kebijakan dan memperjuangkan isu-isu tersebut menjadi keputusan yang berdampak. Tanpa keberadaan mereka di ruang pengambilan keputusan, suara-suara progresif hanya akan jadi gema yang tak pernah didengar.
Politik Bukan Milik Kaum Tua Saja
Faktanya, banyak pemimpin kita saat ini lahir dari generasi yang sama sejak puluhan tahun lalu. Minimnya regenerasi menjadikan sistem politik stagnan. Anak muda yang punya semangat baru, ide segar, dan keberanian untuk melawan arus lama, perlu masuk ke dalam sistem. Jika tidak, maka status quo akan terus berkuasa, dan perubahan hanya jadi wacana.
Idealnya, Bukan Transaksional
Memang, banyak yang takut bahwa masuk politik berarti harus kompromi dengan sistem yang penuh kepentingan. Tapi justru karena itulah kita butuh anak muda yang berani menjaga integritas. Politik praktis bukan tentang “main uang” atau sekadar “cari kursi”, melainkan soal memperjuangkan kebijakan publik yang berpihak kepada rakyat—terutama generasinya sendiri.
Dari Penonton Jadi Pemain
Menjadi aktif secara politik bukan berarti harus langsung mencalonkan diri. Anak muda bisa mulai dari terlibat dalam partai, ikut mengawal kebijakan publik, menjadi relawan kampanye, atau bahkan membuat gerakan sosial-politik independen. Politik bisa diwarnai, asal kita mau masuk ke dalamnya, bukan hanya mencibir dari luar pagar.
Penutup: Politik Butuh Energi Muda
Jika anak muda terus menjauh dari politik praktis, maka panggung kekuasaan akan terus diisi oleh mereka yang mungkin tidak merepresentasikan kebutuhan zaman. Saatnya generasi muda berhenti apatis dan mulai berpikir: bukan “kenapa saya harus masuk politik?”, tapi “apa yang terjadi jika saya tidak masuk politik?”***
