MENTARI NEWS — Tokoh peduli kebencanaan asal Lampung, Andi Arief, mengingatkan Bupati Lampung Barat dan Tanggamus agar lebih waspada terhadap potensi bencana akibat pembentukan bibit siklon tropis. Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap fenomena alam yang saat ini melanda beberapa wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh.
Menurut Andi Arief, daerah Lampung Barat dan Tanggamus yang banyak memiliki kawasan hutan rentan terhadap risiko bencana, terutama banjir dan tanah longsor. “Lambar dan Tanggamus adalah kawasan hutan. Mitigasi bencana harus disiapkan secara matang. Bupati Lambar dan Tanggamus harus benar-benar mengikuti himbauan BMKG, karena kalau siklonnya menyerang bisa mengakibatkan dampak serius seperti yang terjadi di Sumbar, Sumut, dan Aceh,” ujarnya tegas.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya telah memberikan peringatan dini terkait Siklon Tropis Senyar yang menjadi salah satu penyebab banjir dan tanah longsor di wilayah Sumatera. Peringatan ini bahkan sudah disampaikan delapan hari sebelum dampak bencana terjadi, menunjukkan adanya upaya mitigasi yang seharusnya bisa diantisipasi lebih awal.
BMKG juga memperkirakan beberapa faktor meteorologi yang dapat memperburuk kondisi curah hujan di Indonesia hingga awal Januari. Faktor-faktor tersebut meliputi:
Aktivitas Monsoon Asia yang mulai meningkat, memicu hujan lebat di berbagai wilayah.
Munculnya anomali atmosfer seperti Madden Julian Oscillation, gelombang Kelvin, dan Rossby Equator yang memicu hujan ekstrem.
Adanya seruak dingin dari Siberia yang memperkuat intensitas hujan.
Potensi terbentuknya bibit siklon tropis di wilayah selatan Indonesia.
Daerah-daerah yang menjadi fokus pengawasan BMKG meliputi Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, wilayah Jawa hingga Bali, NTB, NTT, serta Maluku dan Papua bagian Selatan hingga Tengah. Dengan kondisi ini, kewaspadaan di Lampung, khususnya Lampung Barat dan Tanggamus, menjadi sangat penting.
Andi Arief menekankan, kesiapsiagaan bupati dan perangkat daerah dalam melakukan mitigasi bencana bisa menyelamatkan banyak nyawa dan meminimalkan kerugian materi. Beberapa langkah yang perlu diperhatikan termasuk penguatan posko bencana, kesiapan evakuasi warga, pemantauan sungai dan perbukitan rawan longsor, serta koordinasi dengan pihak BMKG dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Selain itu, Andi Arief mengingatkan masyarakat agar tetap tenang namun waspada, mengikuti informasi resmi dari BMKG, dan segera melaporkan kondisi ekstrem di lingkungannya. “Kesadaran masyarakat dan kesiapan pemerintah daerah harus berjalan bersamaan. Jangan sampai bencana datang, kita baru bereaksi,” katanya.
Fenomena cuaca ekstrem yang diprediksi hingga awal Januari ini menjadi peringatan penting bagi seluruh pemangku kepentingan di Lampung. Dengan koordinasi yang baik antara pemerintah daerah, instansi terkait, dan masyarakat, risiko kerusakan akibat banjir, longsor, dan dampak siklon tropis diharapkan bisa ditekan seminimal mungkin.
Warga diimbau untuk selalu mengikuti update BMKG, memastikan kesiapan darurat di rumah masing-masing, dan mematuhi himbauan pemerintah jika terjadi situasi kritis. Sikap proaktif dan tanggap bencana akan menjadi kunci keselamatan selama musim hujan dan potensi siklon tropis yang meningkat ini.***
