Budaya Jadi Modal Pembangunan, Gubernur Mirza Dorong Kebangkitan Desa-Desa Budaya Lampung

banner 468x60

MENTRI NEWS— Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal menegaskan bahwa adat dan budaya harus menjadi fondasi pembangunan daerah. Menurutnya, kemajuan ekonomi dan pembangunan fisik harus tetap berjalan seiring dengan upaya menjaga identitas serta karakter masyarakat Lampung.

Pesan tersebut disampaikan Rahmat Mirzani Djausal saat meninjau Desa Wisata Budaya Marga Teluk Bandar Lampung di Lamban Dalom Negeri Olok Gading, Kamis (25/6/2026).

banner 336x280

“Adat dan budaya harus menjadi fondasi pembangunan daerah. Adat dan budaya harus kita junjung tinggi, baik dengan masyarakat Lampung maupun mereka yang datang ke Lampung. Kita maju, tetapi maju dengan karakter. Kita ingin makmur, tetapi kemakmuran itu tetap berlandaskan adat dan budaya,” ujar Gubernur.

Menurut Mirza, kemajuan Lampung tidak dapat dipisahkan dari nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur. Nilai tersebut tercermin dalam falsafah hidup masyarakat Lampung, yakni Piil Pesenggiri, Nemui Nyimah, Sakai Sembayan, Nengah Nyappur, dan Juluk Adok.

Kelima falsafah tersebut dinilai telah menjadi pedoman masyarakat Lampung selama ratusan tahun dalam membangun kehidupan yang harmonis, damai, serta terbuka terhadap keberagaman.

Gubernur menyebut nilai budaya tersebut menjadi salah satu kekuatan yang membuat Lampung mampu menjaga kehidupan sosial yang kondusif di tengah keberagaman suku dan agama.

“Hari ini Lampung menjadi daerah yang kondusif, tidak ada konflik antarsuku, konflik antaragama maupun kecemburuan sosial. Itu karena budaya Lampung mengajarkan bagaimana tuan rumah menghormati tamu dan tamu menghormati tuan rumah. Inilah kekuatan utama masyarakat Lampung,” katanya.

16 Desa Budaya Disiapkan

Mirza mengingatkan perkembangan teknologi dan arus globalisasi tidak boleh membuat generasi muda kehilangan identitas budaya.

Menurutnya, pembangunan gedung, pertumbuhan ekonomi, maupun peningkatan kunjungan wisatawan tidak akan memiliki arti apabila masyarakat kehilangan karakter dan jati diri daerah.

“Kita mungkin akan memiliki gedung-gedung tinggi, wisatawan yang ramai, dan ekonomi yang maju. Tetapi kalau karakter kita hilang, kemajuan itu tidak ada gunanya. Karena itu adat dan budaya harus terus dikedepankan sebagai fondasi pembangunan,” tegasnya.

Sebagai bentuk komitmen pelestarian warisan budaya, Pemerintah Provinsi Lampung saat ini tengah mengidentifikasi dan menyiapkan 16 desa budaya untuk direvitalisasi dan dikembangkan.

Desa-desa tersebut diarahkan menjadi pusat pelestarian budaya sekaligus destinasi wisata berbasis kearifan lokal. Pengembangan desa budaya diharapkan tidak hanya menjaga warisan leluhur, tetapi juga membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat.

Salah satu kawasan yang mendapat perhatian adalah Desa Wisata Budaya Marga Teluk Bandar Lampung di Negeri Olok Gading.

Menurut Mirza, Negeri Olok Gading memiliki nilai sejarah yang penting bagi perjalanan masyarakat Lampung. Kawasan tersebut pernah menjadi salah satu pusat aktivitas perdagangan dan kehidupan masyarakat Lampung pada abad ke-19 sebelum letusan Gunung Krakatau pada 1883.

“Budaya, seni, kehidupan sosial hingga aktivitas perdagangan pernah berkembang sangat baik di kawasan ini. Nilai-nilai itu yang ingin kita hidupkan kembali agar masyarakat Indonesia dapat melihat Lampung yang sesungguhnya,” ujarnya.

Budaya dan Pariwisata Jadi Penggerak Ekonomi

Pengembangan desa budaya, kata Mirza, juga memiliki potensi besar untuk memperkuat sektor pariwisata dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Dengan semakin hidupnya kawasan budaya, wisatawan diharapkan tidak hanya datang untuk singgah, tetapi memiliki alasan untuk tinggal lebih lama dan menikmati berbagai potensi budaya serta ekonomi kreatif yang ditawarkan.

“Ketika desa budaya ini hidup kembali, wisatawan akan semakin lama tinggal di Bandar Lampung dan Provinsi Lampung. Dampaknya akan meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat dan membuka peluang kesejahteraan yang lebih besar,” katanya.

Wali Kota Bandar Lampung Eva Dwiana menyatakan dukungannya terhadap rencana pengembangan Negeri Olok Gading sebagai kawasan wisata budaya.

Menurut Eva, kolaborasi antara Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Pemerintah Provinsi Lampung diperlukan agar pengembangan kawasan tersebut dapat dilakukan secara optimal.

“Olok Gading akan kita jadikan tempat pariwisata. Untuk itu diperlukan kolaborasi antara Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Pemerintah Provinsi Lampung agar pengembangannya dapat berjalan maksimal,” ujar Eva.

Ia juga mengajak para tokoh adat dan masyarakat untuk aktif memberikan masukan serta terlibat dalam menjaga dan mengembangkan warisan budaya Lampung.

Rumah Adat hingga UMKM Jadi Potensi

Penyimbang Saibatin Kebandaran Marga Balak Telukbetung, Erdiansyah bergelar Gusti Pn Igama Ratu, mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap pelestarian adat dan budaya di kawasan tersebut.

Ia mengatakan masyarakat adat Negeri Olok Gading dan Kuripan selama ini terus berupaya mempertahankan warisan leluhur yang telah berusia ratusan tahun, termasuk rumah-rumah panggung tradisional yang masih terjaga keasliannya.

“Kami sangat mengapresiasi perhatian Pemerintah Provinsi Lampung dan Pemerintah Kota Bandar Lampung terhadap pelestarian adat istiadat. Menjaga adat bukan perkara mudah dan tidak murah, sehingga dukungan pemerintah sangat dibutuhkan,” ujarnya.

Budayawan Lampung Anshori Djausal juga menilai pendekatan budaya dapat menjadi strategi pembangunan yang efektif.

Menurutnya, kawasan budaya yang terawat tidak hanya berfungsi sebagai ruang pelestarian sejarah, tetapi juga berpotensi menjadi daya tarik wisata sekaligus membuka peluang investasi.

“Pendekatan budaya merupakan langkah yang sangat strategis dan taktis. Ketika budaya, keramahan, kenyamanan, dan keindahan suatu kawasan terjaga, maka kawasan tersebut akan memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan maupun investor,” kata Anshori.

Ia menambahkan, kawasan Olok Gading dan Kedamaian memiliki sejumlah rumah bersejarah yang berusia lebih dari satu abad dan dinilai layak untuk ditetapkan sebagai cagar budaya.

Dalam kunjungan tersebut, Gubernur Mirza juga meninjau sejumlah titik yang masuk dalam pengembangan Desa Wisata Budaya Marga Teluk Bandar Lampung.

Beberapa di antaranya adalah Makam Pahlawan Marga Teluk Betung di TPU Negeri Olok Gading serta rumah-rumah adat yang masih terjaga keasliannya.

Gubernur juga melihat langsung aktivitas masyarakat dalam mengembangkan ekonomi kreatif dan melestarikan budaya Lampung. Mulai dari penjualan produk UMKM makanan khas Lampung, latihan seni budaya tradisional oleh generasi muda, hingga kegiatan menyulam kain tapis.

Pengembangan kawasan tersebut diharapkan mampu menjadikan Negeri Olok Gading sebagai salah satu etalase budaya Lampung. Dengan dukungan pemerintah, masyarakat adat, pelaku UMKM, dan generasi muda, desa budaya diharapkan tidak hanya menjadi ruang pelestarian warisan leluhur, tetapi juga menjadi penggerak pariwisata dan ekonomi masyarakat.

Dengan demikian, pembangunan Lampung ke depan diharapkan tidak sekadar menghadirkan pertumbuhan ekonomi dan infrastruktur, tetapi juga mempertahankan karakter serta identitas budaya yang menjadi kekuatan masyarakat Lampung.***

banner 336x280