MENTARI NEWS- Taman Budaya Lampung saat ini bukan hanya ada Gedung Teater Tertutup atau ruang pamerang dan fasilitas lainya. Kini ada pula panggung bernama Di Bawah Pohon Rindang — disingkat DPR.
Adalah Nyoman Arsana, seniman musik dan tari, menginisiasi panggung sebagai ruang berkumpul, berkarya, dan berkolaborasi bagi pelaku seni dan kreatif Lampung.
Kali ini, Komunitas Di bawah Pohon Rindang Mejong Jejama (DPR EMJE) bekerja sama dengan Taman Budaya Lampung menghadirkan program rutin bertajuk Mejong Jejama
“Ini sebuah ruang apresiasi yang mempertemukan para pelaku seni, budaya, dan kreatif dalam suasana yang hangat, inklusif, dan penuh kolaborasi,” kata Nyoman, Senin 22 Juni 2026.
Kegiatan ini, lanjutnya, diselenggarakan di kawasan Taman Budaya Lampung, untuk wadah bagi individu maupun komunitas untuk menampilkan karya, gagasan, dan pertunjukan di hadapan publik.
“Nama Mejong Jejama berasal dari bahasa Lampung yang memiliki makna berkumpul dan bersama-sama, mencerminkan semangat kebersamaan yang menjadi ruh dari kegiatan ini,” ujar Nyoman.
Pada edisi kali ini, Mejong Jejama akan menghadirkan beragam penampilan dari komunitas dan pelaku seni, di antaranya Gajah Etnika, Kelompok Belajar An-Nafi’, Sanggar Seni Teluk Stabas, serta penampilan musik dari Project Om Senang.
Ragam pertunjukan yang ditampilkan menjadi cerminan keberagaman ekspresi seni dan kreativitas masyarakat Lampung.
Ia mengundang masyarakat untuk hadir pada Sabtu, 27 Juni 2026, pukul 19.30 WIB di DPR EMJE Taman Budaya Lampung.
Dia melanjutkan, DPR EMJE tidak hanya menjadi panggung pertunjukan, juga dirancang sebagai ruang temu bagi para pegiat seni, pelajar, komunitas, dan masyarakat umum untuk saling mengenal, berbagi inspirasi, serta membangun jejaring kreatif yang berkelanjutan.
Program ini direncanakan berlangsung secara rutin setiap bulan, tepatnya pada minggu keempat, sehingga dapat menjadi agenda budaya yang konsisten dan dinantikan oleh masyarakat. Melalui kegiatan ini, DPR EMJE dan Taman Budaya Lampung berharap dapat terus mendorong tumbuhnya ekosistem seni dan budaya yang hidup, terbuka, dan memberikan ruang bagi generasi muda untuk berkarya.
“Mejong Jejama hadir bukan sekadar sebagai pertunjukan, tetapi sebagai ruang bersama yang menghubungkan ide, kreativitas, dan semangat gotong royong antar komunitas. Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi rumah bagi siapa saja yang ingin belajar, berbagi, dan menampilkan karya,” katanya.***













