Fenomena Geng Motor dan Ketakutan di Jalanan: Ketika Jalan Tak Lagi Aman

banner 468x60

MENTARI NEWS- Jalanan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi masyarakat kini berubah menjadi panggung ketakutan. Fenomena geng motor kembali mencuat, menghadirkan keresahan yang nyata di berbagai kota. Aksi konvoi liar, penganiayaan, hingga perusakan fasilitas umum bukan lagi cerita dari tempat jauh—semuanya kini bisa terjadi di depan mata.

Geng motor tak hanya berkendara ugal-ugalan, mereka menjelma menjadi kelompok yang kerap menebar teror. Bukan tanpa sebab jika masyarakat mulai enggan keluar malam, apalagi di akhir pekan ketika aktivitas mereka biasanya meningkat. Suara knalpot bising, iring-iringan tak beraturan, dan wajah-wajah tanpa helm yang melaju kencang seakan menjadi simbol dominasi jalanan yang tak bisa disentuh hukum.

banner 336x280

Padahal, hukum ada. Aparat pun tak tinggal diam. Namun, tak jarang penindakan bersifat reaktif, bukan preventif. Sementara geng motor terus bergerak dinamis, bahkan semakin pintar menghindari razia dan patroli. Mereka memanfaatkan celah di ruang publik dan media sosial untuk saling terhubung dan mengatur aksi.

Di balik fenomena ini, ada banyak persoalan sosial yang saling terkait. Rasa tidak memiliki arah hidup, kurangnya ruang ekspresi, hingga kegagalan sistem pendidikan informal bisa menjadi pemicu. Sayangnya, yang terlihat di permukaan hanyalah aksi anarkis, bukan akar masalahnya.

Perlu pendekatan lebih dari sekadar penindakan. Dibutuhkan kolaborasi antara aparat, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan untuk membina generasi muda agar tidak terjerumus ke dalam budaya kekerasan geng motor. Jika tidak, ketakutan di jalanan akan menjadi hal biasa, dan kepercayaan publik terhadap keamanan akan terus merosot.

Sudah waktunya semua pihak bergerak. Karena jalanan bukan milik geng motor—jalan adalah milik semua warga yang berhak merasa aman.***

banner 336x280

News Feed