MENTARI NEWS— Di era yang serba cepat dan kompetitif, generasi muda menghadapi tantangan yang tak kalah kompleks: menemukan jati diri. Bukan sekadar mengenali minat atau bakat, melainkan sebuah proses panjang yang sering kali berbenturan dengan tuntutan sosial, harapan keluarga, dan tekanan media digital.
Riset terbaru dari Lembaga Psikologi Remaja Nusantara menyebutkan bahwa lebih dari 60% anak muda usia 17–25 tahun merasa kebingungan terhadap arah hidup mereka. Mayoritas mengaku cemas dengan masa depan, tidak percaya diri, dan merasa terjebak dalam standar kesuksesan yang dibentuk media sosial.
“Anak muda hari ini hidup dalam dua realitas: kenyataan dan dunia maya,” ujar Dr. Haris Nugroho, psikolog perkembangan dari Universitas Indonesia. “Mereka dituntut tampil sempurna di Instagram, sukses di usia muda seperti yang sering terlihat di TikTok, namun di saat yang sama masih berjuang memahami siapa diri mereka sebenarnya.”
Fenomena ini bisa dilihat dari banyaknya anak muda yang ‘melompat’ dari satu minat ke minat lain, atau merasa cepat bosan dalam aktivitas yang dijalani. Ada yang mengikuti kuliah hanya karena dorongan orang tua. Ada pula yang mengejar pekerjaan demi gengsi, bukan karena passion. Akibatnya, banyak yang mengalami kebingungan identitas hingga tekanan mental.
Namun di sisi lain, generasi ini juga menunjukkan keberanian untuk mengeksplorasi. Banyak yang mencoba hal-hal baru, membangun personal branding, hingga merintis usaha sejak muda. Platform digital memberi ruang untuk berekspresi, tapi juga membawa risiko perbandingan sosial dan krisis kepercayaan diri.
Laras (22), mahasiswa sekaligus konten kreator asal Yogyakarta, mengaku pernah kehilangan arah saat merasa tak sebaik rekan-rekannya di dunia maya. “Aku sempat merasa minder karena semua orang terlihat sukses. Tapi akhirnya aku sadar, perjalanan hidupku nggak harus sama dengan mereka. Aku belajar pelan-pelan untuk menerima diriku.”
Perjalanan mencari jati diri memang bukan perkara semalam. Ia adalah proses jatuh bangun yang penuh pencarian, kegagalan, dan refleksi diri. Maka penting bagi lingkungan—keluarga, sekolah, dan masyarakat—untuk menciptakan ruang aman bagi anak muda bertumbuh tanpa tekanan yang berlebihan.
Di tengah ketidakpastian zaman, satu hal yang perlu diingat: menemukan jati diri bukan soal menjadi sempurna, tapi soal berani menjadi diri sendiri.***



















