MENTARI NEWS- Suasana berbeda terlihat setiap pagi di Dusun Empat, Desa Toto Harjo, Kecamatan Purbolinggo, Kabupaten Lampung Timur. Puluhan anak-anak tampak berlarian menuju sebuah bangunan sederhana bercat hijau milik seorang anggota Babinsa Koramil Purbolinggo, Serda Ihsanudin.
Di tempat itulah, harapan dan semangat belajar tumbuh setiap hari. Bangunan yang dulunya hanya gudang penyimpanan pakan sapi kini berubah menjadi ruang belajar interaktif yang dipenuhi tawa dan semangat anak-anak desa.
Perubahan tersebut berawal dari kepedulian Serda Ihsanudin dan sang istri, Umi Salmah, terhadap kondisi anak-anak yang semakin akrab dengan gawai dan mulai kehilangan ruang bermain maupun bersosialisasi secara langsung.
Dengan penuh ketulusan, pasangan tersebut menghadirkan “Gudang Aksara”, sebuah ruang belajar gratis bagi anak-anak usia TK hingga SD di lingkungan desa.
“Kami ingin memberikan ruang di mana anak-anak bisa belajar dengan ceria dan bersosialisasi secara langsung, bukan cuma asyik dengan gawai masing-masing,” ujar Umi Salmah, Jumat (22/5/2026).
Dari Gudang Pakan Menjadi Gudang Ilmu
Empat tahun lalu, bangunan itu hanyalah gudang sederhana dengan suara mesin dan tumpukan pakan ternak. Namun kini suasananya berubah total.
Dinding-dinding ruangan dihiasi poster edukasi berwarna-warni, mulai dari peta Indonesia, aksara Lampung, hingga gambar tokoh nasional seperti Ki Hajar Dewantara dan R.A. Kartini.
Setiap hari Senin hingga Jumat, puluhan anak rutin datang mengikuti berbagai kegiatan belajar, mulai dari pengenalan huruf, membaca, berhitung hingga kelas sejarah dan kebangsaan.
Tak hanya belajar di dalam ruangan, Serda Ihsanudin juga membangun area bermain sederhana di halaman rumahnya.
Terdapat seluncuran, ayunan, dan jungkat-jungkit yang sengaja disediakan agar anak-anak lebih aktif bergerak dan tidak terus menerus terpaku pada layar handphone.
Langkah sederhana tersebut ternyata membawa dampak besar bagi lingkungan sekitar.
Orangtua Merasa Terbantu
Kehadiran Gudang Aksara mendapat sambutan hangat dari masyarakat. Banyak orangtua mengaku bersyukur karena anak-anak mereka kini lebih aktif belajar dan bersosialisasi.
Ida, salah seorang wali murid, mengatakan perubahan perilaku anaknya mulai terlihat sejak rutin mengikuti kegiatan belajar di tempat tersebut.
“Sebagai orangtua, kami sangat senang dan terbantu. Waktu bermain anak jadi lebih bermanfaat untuk belajar, dan yang paling penting, ketergantungan mereka pada handphone berkurang drastis,” ujarnya.
Saat ini, lebih dari 50 anak mengikuti kegiatan belajar secara rutin tanpa dipungut biaya. Bahkan beberapa di antaranya merupakan anak-anak yang belum sempat mengenyam pendidikan formal.
Bagi warga Desa Toto Harjo, kehadiran Gudang Aksara menjadi oase pendidikan di tengah keterbatasan fasilitas belajar nonformal di desa mereka.
Pengabdian yang Menyentuh Hati
Di mata warga, Serda Ihsanudin bukan hanya seorang Babinsa yang bertugas menjaga keamanan wilayah. Ia juga dianggap sebagai sosok penggerak sosial yang hadir langsung membantu masyarakat.
Pengabdian yang dilakukan bersama istrinya menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah sederhana dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Sore hari, selepas menjalankan tugas sebagai aparat teritorial, Serda Ihsanudin kerap terlihat duduk santai bersama istrinya di teras rumah sambil menyaksikan anak-anak bermain dan belajar.
Pemandangan sederhana itu menjadi simbol bahwa pendidikan, kasih sayang, dan kepedulian sosial masih tumbuh kuat di pelosok desa Lampung Timur.***



















