MENTARI NEWS- Komunitas Alumni Universitas Lampung (Unila) Peduli Pilrek Unila 2026 akan menggelar diskusi dan dialog bersama Dr. Budiyono, S.H., M.H., salah seorang bakal calon Rektor Unila periode 2027–2031. Kegiatan ini melibatkan alumni serta praktisi dan penggiat pendidikan di Lampung.
Dialog yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat (16/10/2026) tersebut mengangkat tema “Menyoal Tembok Menara Gading, Ketika Teori-teori di Ruang Kampus Bertemu Realitas”. Kegiatan akan digelar di Sekolah Az Zahra, Bandar Lampung, dengan Gino Vanoli sebagai pemandu diskusi.
Inisiator dialog, Mochammad Nashir Badri, alumni Unila angkatan 1987, mengatakan Budiyono dipilih karena dinilai merepresentasikan alumni yang memiliki kapasitas dan jaringan di berbagai bidang.
“Mengapa Budiyono? Karena yang bersangkutan kami anggap sebagai representasi alumni Unila yang memiliki kekuatan di berbagai aspek, dan sangat layak untuk memimpin almamater tercinta,” ujar Nashir.
Menurut Nashir, pengalaman Budiyono sebagai akademisi serta jaringan yang dimilikinya di bidang pendidikan, penelitian, dan kemasyarakatan dinilai dapat membuka peluang kolaborasi yang lebih luas antara perguruan tinggi dan masyarakat.
Ia menilai hubungan kampus dengan masyarakat perlu diperkuat agar perguruan tinggi tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, tetapi juga mampu menjawab persoalan nyata di lingkungan sekitarnya.
Soroti Jarak Kampus dan Masyarakat
Nashir menyinggung adanya jarak antara perguruan tinggi dan masyarakat yang diibaratkan sebagai “tembok tinggi menara gading”.
Meminjam istilah Gino Vanoli, Nashir menilai kondisi tersebut perlu dipersoalkan dan diatasi melalui kolaborasi yang efektif antara kampus dan berbagai elemen masyarakat.
Menurutnya, hubungan tersebut perlu dibangun dengan prinsip saling memberikan manfaat atau simbiosis mutualisme, sehingga kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dapat berjalan lebih terarah.
Nashir juga menilai bakal calon rektor perlu berdialog dengan berbagai kalangan agar program pengembangan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat.
Keterbukaan, empati, dan hubungan timbal balik, kata dia, diperlukan untuk menghasilkan lulusan berkualitas, penelitian aplikatif, serta program pengembangan yang tepat sasaran.
Hubungkan Visi Calon Rektor dengan Realitas Pendidikan
Diskusi tersebut dirancang untuk mempertemukan visi dan misi yang diusung Budiyono dengan kondisi riil, persoalan, serta kebutuhan dunia pendidikan di Lampung.
Audiens yang diundang mencakup alumni Unila dari kalangan praktisi dan penggiat pendidikan. Melalui dialog ini, penyelenggara berharap masukan dari para peserta dapat memperkaya pembahasan mengenai peran perguruan tinggi dalam menjawab kebutuhan masyarakat.
Ning Siti Fatimah, salah seorang alumni Unila yang mengelola lembaga pendidikan di Bandar Lampung, turut mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Sebagai pendidik, pemilik sekaligus pengelola lembaga pendidikan, serta penggiat sosial, Ning Siti menilai dialog antara Budiyono dan praktisi pendidikan dapat menjadi langkah awal untuk membangun kolaborasi.
Ia berharap pertemuan tersebut dapat membuka ruang kerja sama dalam mendukung pengembangan pendidikan dan mempersiapkan generasi Indonesia Emas.
Melalui dialog ini, Komunitas Alumni Unila Peduli Pilrek Unila 2026 berharap hubungan antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat menjadi salah satu pokok pembahasan dalam melihat arah pengembangan Unila ke depan.***



















