Kecerdasan Buatan dan Ruang Aman Emosional: Musik Jadi Pelarian Favorit Gen Z

banner 468x60

MENTARI NEWS- Di tengah derasnya arus informasi, tekanan sosial media, dan kecemasan masa depan, generasi Z menemukan pelarian dalam musik. Namun berbeda dari generasi sebelumnya, cara mereka mendengarkan dan menemukan musik kini dikurasi oleh algoritma—termasuk kecerdasan buatan (AI).

Pertanyaannya: apa yang sebenarnya mereka cari lewat lagu-lagu yang mereka dengarkan? Dan seberapa besar pengaruh AI dalam membentuk selera musik Gen Z?

banner 336x280

Musik Sebagai Cermin Keresahan

Bukan hanya hiburan, musik kini menjadi terapi emosional bagi Gen Z. Dari lagu bertema overthinking, quarter life crisis, hingga patah hati yang kontemplatif, Gen Z cenderung menyukai musik yang bisa “mengerti” perasaan mereka.

“Saya sering nyalain playlist ‘sad indie’ bukan karena sedih aja, tapi karena bikin saya ngerasa nggak sendiri,” kata Dira (21), mahasiswa di Jakarta.

Data Spotify Wrapped 2024 mencatat, genre paling banyak didengarkan Gen Z di Indonesia adalah lo-fi, bedroom pop, dan R&B melankolis, disusul genre upbeat seperti hyperpop dan K-Pop untuk penyeimbang suasana hati.


AI Mengubah Cara Kita Menemukan Lagu

Dulu, orang menemukan lagu lewat radio atau rekomendasi teman. Kini, playlist personal seperti Discover Weekly, Release Radar, atau For You Mix hadir berkat algoritma AI yang mempelajari kebiasaan dengar pengguna.

AI membaca mood, waktu dengar, bahkan lirik yang sering diulang. Tak heran jika setiap orang punya daftar putar emosionalnya masing-masing—seolah tahu persis kapan kita sedang sedih atau butuh semangat.

Namun, di sinilah ironi muncul:
Apakah kita masih punya selera sendiri, atau semua ini sekadar hasil rekayasa sistem?


Musik Digital = Musik Instan?

Meski akses musik makin mudah, kritikus budaya menilai ada kekhawatiran soal degradasi selera musik. Lagu berdurasi pendek, repetitif, dan viral-friendly dianggap lebih digemari algoritma ketimbang karya dengan eksplorasi mendalam.

“AI cenderung mempromosikan lagu yang mirip dari pola sebelumnya. Ini bisa mempersempit referensi musik pendengar muda,” kata Adityo Nugroho, pengamat budaya digital.

Namun di sisi lain, AI juga membuka pintu untuk musisi independen yang dulunya kesulitan menjangkau pendengar.


Musik & Identitas Digital Gen Z

Lebih dari sekadar audio, musik kini bagian dari identitas online Gen Z. Lagu yang dipakai di TikTok, playlist yang dibagikan di Instagram, bahkan musik latar untuk konten YouTube, semuanya membentuk citra diri digital mereka.

Dalam hal ini, musik menjadi “bahasa sunyi” yang mencerminkan siapa mereka, apa yang mereka rasakan, dan bagaimana mereka ingin dilihat dunia.


Kesimpulan: Saat Algoritma Bertemu Emosi

Di era kecerdasan buatan, musik bukan sekadar soal selera, tapi juga algoritma. Meski begitu, esensi musik sebagai pelarian dan pengobat luka tetap tak tergantikan.

Gen Z mungkin didampingi teknologi, tetapi kebutuhan mereka untuk dimengerti—melalui lantunan melodi—adalah sesuatu yang sangat manusiawi.***

banner 336x280