MENTARI NEWS- Kekerasan terhadap anak dan perempuan menjadi topik diskusi yang digelar mahasiswa KKN Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu di Pekon Waluyojati, Kecamatan Pringsewu, Senin (10/8/2026).
Kegiatan yang dipusatkan di Dusun 2 pekon setempat tersebut menjadi fokus mahasiswa dalam menyosialisasikan persoalan perlindungan dan pencegahan kekerasan terhadap anak dan perempuan.
Pada kesempatan itu, mahasiswa KKN menghadirkan narasumber Dr. Dedi Irawan, S.E., M.E.Sy., yang juga sebagai Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan terhadap Anak dan Perempuan (PPKPT).
Kegiatan tersebut juga didampingi dosen pembimbing lapangan (DPL) KKN STIT Pringsewu, Wulan Octi Pratiwi, M.Pd., serta dikoordinasikan Riski Arif selaku Ketua Kelompok KKN sekaligus Ketua Panitia Pelaksana.
Lebih lanjut, Dr. Dedi Irawan menekankan, pencegahan kekerasan harus dimulai dari keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi anak.
Ia menjelaskan kekerasan tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga dapat berbentuk kekerasan verbal, psikis, seksual, ekonomi, penelantaran, serta kekerasan di ruang digital.
“Tegas tidak harus keras, mendidik tidak harus menyakiti dan yang perlu diperbaiki adalah perilaku anak, bukan merendahkan harga dirinya,” ujar Dedi Irawan.
Ia juga mengajak orang tua membangun komunikasi yang terbuka, memberikan teladan, mengendalikan emosi, serta menciptakan rumah sebagai tempat yang aman bagi anak dan perempuan.
Memasuki sesi diskusi dengan tema “Anak Melawan Saat Dimarahi”, kegiatan berlangsung interaktif.
Seorang peserta sosialisasi, Ibu Hj. Suparmi, mengajukan pertanyaan, “Anak sekarang kalau dimarahi orang tua malah balik marah.”
Dengan persoalan itu, Dr. Dedi Irawan menjelaskan bahwa orang tua sebaiknya tidak membalas emosi anak dengan kemarahan.
“Ketika anak sedang emosi, jangan dilawan dengan emosi, berikan kesempatan untuk tenang, kemudian ajak bicara, dengarkan alasannya, tetapi tetap berikan batasan yang jelas,” ungkap Dedi Irawan.
Menurutnya, orang tua harus menjadi teladan karena anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.
Bahkan berkaitan dengan anak yang bermain di masjid hendaknya jangan langsung dibentak atau dipermalukan, melainkan didekati, diarahkan, dan diajarkan adab di masjid secara bertahap.
“Anak perlu dikenalkan dengan masjid dan diajarkan adabnya dengan kasih sayang. Jangan sampai karena ingin masjid tenang, anak justru menjadi takut datang ke masjid,” katanya.
Dalam sosialisasi tersebut, peserta juga dibekali pemahaman mengenai hak anak dan perempuan, peran orang tua, pengawasan penggunaan gawai dan media sosial, serta langkah yang perlu dilakukan apabila menemukan kasus kekerasan.
Dr. Dedi juga mengingatkan masyarakat agar tidak menyalahkan korban dan tidak memilih diam ketika mengetahui adanya kekerasan.
“Jangan menyalahkan korban, dengarkan, lindungi, dampingi, dan bantu mencari pertolongan,” ungkapnya.
Menurutnya, pencegahan terhadap kekerasan adalah tanggung jawab kita bersama.
Sementara itu, Wulan Octi Pratiwi, M.Pd., selaku DPL KKN STIT Pringsewu, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari kontribusi mahasiswa dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.
Sedangkan Riski Arif, Ketua Kelompok KKN sekaligus Ketua Panitia Pelaksana, berharap materi yang disampaikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam keluarga.*** (Wid/rilis).
