MENTARI NEWS- Di tengah hiruk-pikuk kota, layar-layar ponsel menyala lebih terang dari tatapan mata. Percakapan menjadi notifikasi, perhatian berganti menjadi swipe up, dan kehadiran berubah menjadi status online. Di era modern yang katanya serba terhubung, justru banyak dari kita merasa paling jauh dari sesama. Pertanyaannya: ke mana perginya empati?
Empati—kemampuan merasakan apa yang dirasakan orang lain—tampaknya mulai terkikis di tengah gaya hidup serba cepat, ego sentris, dan dominasi media sosial. Ketika seseorang jatuh di trotoar, tak jarang yang pertama merespons justru kamera, bukan tangan yang membantu. Ketika bencana menimpa, yang lebih dulu viral adalah jumlah likes ketimbang aksi nyata.
Dalam riset yang dilakukan oleh American Psychological Association, ditemukan bahwa empati di kalangan generasi muda menurun drastis selama dua dekade terakhir. Di Indonesia, fenomena serupa bisa dirasakan dari meningkatnya kasus perundungan, intoleransi, hingga lemahnya solidaritas sosial dalam skala komunitas.
Sosiolog Universitas Indonesia, Dr. Rahmat Hidayat, menilai bahwa empati kini kalah bersaing dengan budaya individualisme yang dipupuk oleh sistem ekonomi dan sosial. “Kita hidup di dunia yang mendorong pencapaian pribadi, bukan keberhasilan kolektif. Dalam situasi seperti ini, empati menjadi barang langka.”
Lebih mengkhawatirkan, hilangnya empati bukan hanya terjadi di ruang privat, tapi juga merambah ke ranah publik: dari pejabat yang gagal mendengar suara rakyat, influencer yang memanfaatkan tragedi demi konten, hingga warga yang saling menyalahkan saat musibah terjadi.
Namun, semua belum terlambat.
Gerakan-gerakan kecil seperti komunitas peduli lingkungan, dapur umum swadaya, hingga inisiatif berbasis digital yang mengedepankan empati, mulai menggeliat sebagai perlawanan terhadap sikap acuh. Di sekolah-sekolah, beberapa kurikulum mulai menyisipkan pelajaran empati dan kecerdasan emosional. Ini pertanda baik.
Empati mungkin tak bisa dikembalikan hanya lewat himbauan. Ia harus dilatih, dibiasakan, dan dirawat dalam keseharian. Dari mendengar cerita orang tanpa menyela, hingga menyapa petugas kebersihan dengan tulus. Dari tidak sekadar mengutuk bencana di media sosial, tetapi juga menyumbang atau turun tangan.
Karena tanpa empati, dunia ini hanya akan jadi tempat di mana manusia hidup berdekatan tapi merasa sendirian. Teknologi boleh mendekatkan jarak, tapi hanya empatilah yang menyatukan hati.***



















