MENTARI NEWS- Setiap kenaikan harga kebutuhan pokok selalu disambut keluhan yang sama dari masyarakat: “Semua naik, tapi gaji tetap.” Kalimat ini bukan sekadar ungkapan lelah, tapi cerminan nyata dari kondisi ekonomi yang makin sulit dijangkau. Inflasi bukan lagi istilah asing di kepala rakyat, melainkan kenyataan yang saban hari menggerus daya beli mereka.
Bagi masyarakat berpenghasilan tetap, inflasi terasa seperti beban ganda. Harga pangan melonjak, ongkos transportasi naik, biaya pendidikan membengkak. Tapi penghasilan? Tetap stagnan. Ketimpangan inilah yang membuat banyak keluarga harus mengencangkan ikat pinggang, bahkan memangkas kebutuhan dasar.
Pemerintah memang tak tinggal diam. Berbagai program subsidi, bantuan sosial, hingga operasi pasar digulirkan untuk meredam dampak inflasi. Namun, pertanyaannya: apakah langkah-langkah itu cukup? Atau justru hanya menjadi solusi jangka pendek yang tak menyentuh akar persoalan?
Sebagian pengamat menilai, kebijakan yang dikeluarkan masih cenderung reaktif, belum sistematis. Inflasi bukan semata-mata soal harga naik, tapi juga tentang ketahanan produksi, distribusi, dan tata niaga yang belum efisien. Ketika sistem logistik terganggu, ketika ketergantungan impor tinggi, harga akan selalu rentan naik.
Solusi struktural dibutuhkan. Penguatan sektor pertanian, kestabilan energi, hingga diversifikasi sumber pangan menjadi kunci. Di sisi lain, edukasi literasi keuangan bagi masyarakat juga penting agar mereka mampu mengelola keuangan pribadi di tengah tekanan ekonomi.
Karena jika tidak, kita hanya akan terus berbicara soal inflasi dari tahun ke tahun—tanpa benar-benar menyentuh inti persoalan. Dan pada akhirnya, rakyat kembali menanggung beban, sementara solusi hanya berputar dalam bentuk wacana.***



















