MENTARI NEWS- Di era digital, layar ponsel bukan hanya menjadi jendela informasi, tapi juga cermin idola. Anak muda masa kini tak lagi menggantungkan inspirasi hanya dari tokoh politikus, akademisi, atau selebritas konvensional. Mereka kini punya panutan baru: selebgram.
Dengan jumlah pengikut yang fantastis, konten yang menghibur, dan gaya hidup yang terlihat ‘sempurna’, para selebgram berhasil merebut hati generasi muda. Tapi apakah semua yang tampak benar-benar nyata?
Dari Hobi Jadi Profesi
Bermodal kamera ponsel, outfit kekinian, dan caption yang relate, banyak selebgram muda muncul bak jamur di musim hujan. Tak sedikit dari mereka yang awalnya hanya iseng berbagi keseharian, kini menjadikan media sosial sebagai sumber penghasilan utama.
“Awalnya cuma buat seru-seruan. Sekarang endorse bisa sampai jutaan rupiah sekali posting,” ujar Nadya, selebgram fashion dengan 250 ribu pengikut.
Pengaruh yang Melebihi Televisi
Tak dapat dimungkiri, daya pengaruh selebgram sangat kuat. Dari tren berpakaian, gaya bicara, hingga cara berpikir—semuanya bisa menyebar luas hanya lewat satu unggahan.
Penelitian dari lembaga Nielsen menunjukkan bahwa generasi Z dan milenial kini lebih mempercayai influencer media sosial dibanding iklan TV atau tokoh publik formal.
Namun, di balik itu ada kekhawatiran: apakah anak muda mampu membedakan antara gaya hidup nyata dan pencitraan digital?
Efek Cermin yang Tak Selalu Sehat
Sayangnya, tak semua pengaruh selebgram membawa dampak positif. Banyak anak muda merasa tertinggal, insecure, bahkan depresi karena merasa hidup mereka tidak se-“sempurna” unggahan sang idola.
“Saya pernah merasa hidup saya gagal hanya karena melihat story teman yang jalan-jalan terus,” kata Riko, mahasiswa semester akhir yang aktif di Instagram.
Kondisi ini menunjukkan pentingnya edukasi literasi digital, agar generasi muda memahami bahwa media sosial sering kali hanya menampilkan ‘highlights’ kehidupan, bukan realitas seutuhnya.
Antara Tanggung Jawab dan Popularitas
Seiring bertambahnya pengaruh, tanggung jawab moral pun meningkat. Sayangnya, tak semua selebgram menyadari dampak kontennya. Konten prank berbahaya, flexing berlebihan, hingga opini provokatif kerap menghiasi linimasa.
“Seharusnya influencer menyadari bahwa mereka sedang membentuk opini publik,” ujar Dinda, aktivis literasi digital.
Beberapa selebgram telah mencoba mengubah arah kontennya menjadi lebih edukatif atau inspiratif. Namun, tekanan algoritma yang mengejar viralitas kadang membuat konten positif kalah pamor.
Kesimpulan: Idola Baru, Tantangan Baru
Selebgram adalah produk zaman. Mereka bisa menjadi inspirasi positif jika mengedepankan nilai, kejujuran, dan kebermanfaatan. Tapi jika hanya mengejar angka, maka yang lahir adalah budaya palsu dan tekanan sosial.
Generasi muda harus dibekali kemampuan berpikir kritis dalam mengonsumsi media sosial. Karena di balik feed yang estetik, tak semua cerita indah layak ditiru.***













