MENTARI NEWS- Di tengah arus informasi yang terus mengalir tanpa henti, generasi Z hidup dalam dunia yang serba cepat, serba digital, dan nyaris tanpa batas. Dari bangun tidur hingga kembali merebahkan diri, mereka bersentuhan dengan layar—media sosial, portal berita, video pendek, hingga diskusi daring. Dalam kondisi inilah, literasi media menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan.
Literasi media bukan hanya tentang kemampuan membaca dan menulis. Ini adalah kemampuan untuk memilah, memahami, dan mengkritisi setiap informasi yang diterima. Generasi Z harus mampu membedakan mana berita yang faktual dan mana yang penuh opini, mana konten yang bernilai edukatif dan mana yang sekadar sensasional.
Sayangnya, media sosial sering kali menjadi ruang subur bagi disinformasi. Judul clickbait, hoaks, hingga kampanye hitam politik kerap berseliweran tanpa verifikasi. Tanpa kemampuan literasi media yang baik, generasi Z bisa terjebak dalam echo chamber, ruang gema informasi yang hanya memperkuat pandangan sendiri tanpa membuka ruang dialog.
Penting pula untuk menanamkan pemahaman bahwa tidak semua yang viral itu valid. Generasi Z harus kritis terhadap sumber informasi, mempertanyakan motif di balik sebuah narasi, dan tidak serta-merta menyebarkan apa yang belum tentu benar.
Pendidikan literasi media seharusnya tak hanya menjadi tanggung jawab guru atau sekolah. Orang tua, komunitas, hingga lembaga penyiaran memiliki peran penting dalam membangun ekosistem informasi yang sehat.
Jika generasi Z dibekali dengan kemampuan literasi media yang baik, mereka tidak hanya akan menjadi pengguna media yang cerdas, tapi juga produsen informasi yang bertanggung jawab. Di tangan mereka, masa depan ruang digital Indonesia bisa menjadi lebih jernih, adil, dan bebas dari kabut informasi palsu.***



















