MENTARI NEWS- Puisi-puisi Muhammad Alfariezie yang lahir dalam rentang 2020–2026 memperlihatkan perjalanan kepenyairan yang menarik: dari ungkapan cinta yang romantik menuju kesadaran yang lebih luas tentang alam, kehidupan sosial, bahkan kekuasaan.
Perubahan tersebut menjadikan Alfariezie bukan sekadar penyair yang menggunakan alam sebagai latar keindahan, melainkan penyair yang mulai menjadikan alam sebagai bahasa untuk membaca kehidupan manusia. Berikut ini puisi:
Intipan Penghujung Senja
Masih sempat dia mengintip
dari rimbun bukit padahal
waktu dan ruangnya tampak
sudah kian menyempit
Matahari, apakah belum
yakin bulan amanah dengan
cahayanya sehingga kita
dan mereka tetap layaknya
ladang sebagai rezeki orang
maupun binatang?
Dan masih sempat diintipnya
perlahan dari bebatuan
cadas
Matahari, mungkin enggak
tega pemakaian bulan bikin
gerah bagi yang kurang
sejahtera
2026
PUJI
1
Suaramu nuri membuat embun tertidur
Engkau nyanyian membuatku memotong
ranting menjulur
Jernih bola matamu mengusir gelombang
Seperti hujan di tanah gersang
Beningmu menyuburkan leladang
Teratai melatiku tumbuh
Stellaku mengisi kota dari pagi hingga subuh
Putiknya lentik
Serupa kolam kedatangan rerintik
Tapi di tengah lelampu jika tanpamu
Pasti kuhanya termangu, kekasihku
Jika aku sendiri
Hidup ini umpama selalu memakan teri
Selain itu, sayangku, pelukmu ke tubuhku
Adalah kehangatanku
2020
2
Tak perduli kemarau atau penghujan
Hari datang dan pergi
Begitu pun pangeran
Harus selalu merawat negeri
Tapi umpama aku dewa
Takan sepi tanpa kekasih
Sayang aku pewaris tahta
Bila sendiri pastilah sedih
Cintaku
Pemaluku
Awan di langit adalah putihmu
Awan di langit ialah wajahmu
Awan di langit keindahanmu
Suci dan jernih ialah kamu
Pagi, siang dan malam pasti
doaku untukmu
Kaki, jari, hingga tubuhku pasti bergerak sesuai inginmu
2020
SUARA BATIN KITA
Bila mendengar bisik bunga-bunga
Tahulah ingin mekar tanpa luka menganga
Seperti kulit mulus pevita
Begitu pun suara batin kita
Berbisik-bisik ingin menikmati alam kuta
Melihat ombak dan keindahan pagi serta senja
Bahagia, adalah kata-kata puitis penyair
Seperti daun-daun yang mendesir
Sejuk dan kadang menyihir
2021
SEMOGA BERJUMPA DI SURGA
Pernah terdengar
Ada yang merindu di sungai itu
Nyanyinya merdu. Namun
Wajahnya dini hari
Pernah terdengar
Yang merindu itu seorang putri
Sayang,
Hanya selendang putihnya terapung
Saat ini,
Sekadar wajah cantik di dalam lukisan
Konon, dia tenggelam
Bersama jernihnya cinta
Di manakah yang berkinanti itu berada?
Semoga saja
Kami berjumpa di surga
2020
BERMIL-MIL KAMI MENCARI PELANGI
Hujan yang menyegarkan tanaman
Ribuan orang berkumpul
Bernyanyi di tanah lapang
Keinginannya hanya satu, yaitu
Segera turun, duhai
Penyempurna bunga-bunga
Anak-anak rindu taman nan rimbun
Bapak dan ibu
Ingin sekali sumur yang basah, wahai
Penyubur ladang-ladang
Bermil-mil kami mencari pelangi
Tapi, hingga puncak paling tinggi
Hanya mendung
Dan begitu jelas
2020
BAGAIMANA MENANAM CANTIK ITU
Bunga jingga di sisi jalan
Bagai senja pembuat senang,
meski diri tak berteman
Entah siapa
Bagaimana menanam cantik itu
Yang jelas
Laksana danau diri ini
Sungguh
Memandang jingga di dalam taman
Sayang, tak boleh dibawa pulang
Andai…
Pasti menghias pagi dan malam
Seperti mentari
Yang terangnya untuk bulan
Kemiling, Bandarlampung 22 Desember 2020
RINDANG
Jika lagu dan adzan masih berkumandang
Bila ilalang masih bisa ditebang
Lalu bayam, ikan dan nasi mudah kita makan
Kenapa musti menuduhnya tiran?
Biar saja tentaranya berbaris di jalan-jalan
Biar saja polisinya bagai macan
Selagi rumah kebun tumbuh bunga dan mangga
Lebih asyik berolahraga dengan keluarga
Lagi pula gunung hijau menjulang
Di sana belukar tapi rindang
Ada kijang dan harimau
Air mengalir hingga ke surau
2020
Dalam puisi “Puji”, misalnya, alam masih hadir sebagai metafora cinta.
Alfariezie memyandingkan Mata kekasih dengan kejernihan air, hujan dengan kesuburan, dan tubuh dengan kehangatan.
Pola ini memang masih dekat dengan romantisme konvensional.
Namun, menariknya, Alfariezie sesekali memasukkan benda-benda konkret seperti teri, ladang, hujan, dan makanan.
Di titik ini, cinta tidak lagi melayang sebagai perasaan abstrak, tetapi bersentuhan dengan materialitas kehidupan sehari-hari.
Perkembangan lebih jauh tampak dalam “Bermil-Mil Kami Mencari Pelangi”.
Hujan tidak lagi sekadar simbol kerinduan, melainkan kebutuhan masyarakat.
Anak-anak merindukan taman, sementara orang tua mengharapkan sumur yang basah dan ladang yang subur.
Pelangi kemudian menjadi metafora harapan kolektif, tetapi pencarian itu justru berakhir pada “mendung”.
Alam dalam puisi tersebut telah berubah menjadi persoalan kesejahteraan.
Kecenderungan sosial itu semakin jelas dalam “Rindang”. Bayam, ikan, nasi, kebun, gunung, air, bahkan keberadaan polisi dan tentara menjadi bagian dari perenungan politik penyair.
Puisi ini menarik karena tidak membicarakan kekuasaan melalui bahasa politik yang berat, tetapi melalui pertanyaan sederhana: apakah manusia masih dapat makan, beribadah, bekerja, dan hidup bersama keluarga?
Meski demikian, pandangan politiknya masih menyisakan penyederhanaan.
Kehidupan material yang tenteram belum tentu identik dengan kebebasan politik.
Di sinilah puisi tersebut justru menarik untuk diperdebatkan.
Puncak perkembangan terlihat dalam “Intipan Penghujung Senja” (2026). Penyair Generasi Bsru ini memposisikan Matahari dan bulan seperti subjek yang memiliki hubungan moral, sementara ia membayangkan ladang sebagai sumber rezeki bagi “orang maupun binatang”.
Alam tidak lagi sekadar objek yang dikagumi manusia. Ia mulai tampil sebagai bagian dari kehidupan yang memiliki kepentingan sendiri.
Dari perspektif kritik sastra kontemporer, kecenderungan tersebut dapat dibaca sebagai ekopoetika: puisi yang tidak hanya menggambarkan alam, tetapi mempertanyakan hubungan manusia dengan lingkungan dan dunia nonmanusia.
Di sinilah kekhasan Alfariezie mulai terbentuk.
Namun, kekuatan gagasan tersebut belum selalu diikuti kematangan bahasa.
Beberapa metafora masih konvensional—hujan sebagai cinta, bunga sebagai kecantikan, matahari sebagai harapan. Sejumlah diksi juga terasa terlalu langsung.
Dengan kata lain, imajinasi Alfariezie kadang lebih maju daripada teknik puitiknya.
Justru karena itu, tantangan kepenyairannya kini bukan mencari lebih banyak tema, melainkan menemukan bahasa yang benar-benar personal.
Benda-benda sederhana seperti teri, bayam, ikan, nasi, sumur, ilalang, ladang, dan bebatuan cadas berpotensi menjadi kekuatan khasnya.
Dari benda-benda itulah Alfariezie dapat membangun puisi yang tidak sekadar indah, tetapi memiliki identitas.
Jika dibaca secara kronologis, perjalanan Alfariezie dapat diringkas sebagai perubahan dari “aku dan kekasih” menuju “kita dan mereka”, lalu menuju “orang maupun binatang”.
Perubahan kecil dalam cara memandang tersebut menunjukkan perkembangan besar dalam kesadaran puitiknya.
Muhammad Alfariezie belum menjadi penyair yang selesai—dan mungkin justru itu daya tarik terbesarnya.
Ia sedang menemukan bentuk bagi kegelisahan tentang cinta, alam, kemiskinan, kekuasaan, kehilangan, dan kehidupan.
Apabila ia mampu menundukkan bahasa sebagaimana ia telah menemukan kegelisahannya, bukan tidak mungkin ekopoetika yang tumbuh dari pengalaman lokal dan keseharian itu kelak menjadi salah satu ciri penting kepenyairannya.
Sebab penyair pada akhirnya bukan hanya orang yang memiliki sesuatu untuk dikatakan, melainkan orang yang menemukan cara yang hanya dapat dikatakan melalui bahasanya sendiri.***















