Nilai Gotong Royong dalam Budaya Indonesia yang Semakin Terkikis di Era Kecerdasan Buatan

MENTARI NEWS- Di masa lalu, suara alat pertanian yang berdenting bersamaan di sawah bukan sekadar tanda kerja keras, tapi juga simbol kekompakan: gotong royong. Namun, di masa kini, suara itu tergantikan oleh notifikasi gawai dan deru mesin otomatis. Pertanyaannya, masihkah gotong royong menjadi bagian dari kehidupan kita di tengah dominasi teknologi dan kecerdasan buatan?


Kecanggihan Teknologi, Kesepian Sosial

Kecerdasan buatan (AI) hadir membawa berbagai kemudahan: otomatisasi pekerjaan, pelayanan publik berbasis chatbot, bahkan keputusan berbasis big data. Namun di sisi lain, teknologi juga menciptakan jarak sosial yang tidak kasat mata.

“Dulu, membangun rumah panggung bisa melibatkan satu kampung. Hari ini? Cukup bayar kontraktor dan selesai,” ungkap Suwardi, tokoh adat di daerah Kulon Progo, Yogyakarta.

Fenomena ini mencerminkan realitas baru: nilai gotong royong sebagai budaya kolektif tergantikan oleh efisiensi individual.


Budaya Kolektif vs Budaya Praktis

Gotong royong bukan hanya soal membantu, tapi juga tentang membangun relasi sosial, menanam rasa peduli, dan menciptakan rasa memiliki. Sayangnya, di era digital, segala sesuatu serba instan dan transaksional.

“Kita semakin jarang saling meminta tolong. Semua serba outsourcing. Ini membuat kita kehilangan kepekaan sosial,” ujar Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Dr. Nina Ramadhani.


AI dan Nilai Sosial: Tidak Saling Bertolak Belakang

Bukan berarti kecerdasan buatan harus menjadi kambing hitam. AI bisa menjadi alat untuk memperkuat nilai-nilai kolektif jika digunakan secara bijak. Misalnya, aplikasi berbasis komunitas yang memfasilitasi kerja bakti, donasi kolektif, atau informasi kegiatan sosial di lingkungan.

Startup sosial seperti “BerbagiLokal” mulai mengembangkan sistem berbasis AI untuk memetakan kebutuhan masyarakat desa, agar semangat gotong royong bisa dijaga dengan pendekatan modern.


Pendidikan Karakter di Tengah Gelombang Teknologi

Revitalisasi gotong royong membutuhkan peran aktif institusi pendidikan dan keluarga. Anak-anak yang sejak kecil terbiasa hidup dalam ekosistem digital perlu dikenalkan dengan makna kerja sama, empati, dan solidaritas secara langsung—bukan hanya lewat animasi edukatif.

Kementerian Pendidikan, misalnya, telah mengadopsi kurikulum berbasis profil pelajar Pancasila, yang salah satu unsurnya adalah gotong royong. Tapi, sejauh mana nilai itu bisa bertahan di tengah hegemoni algoritma?


 Tradisi Lama, Tantangan Baru

Kecerdasan buatan memang bisa menggantikan banyak hal—tapi tidak bisa menggantikan rasa saling peduli dan kerja kolektif yang menjadi jantung dari gotong royong. Indonesia butuh strategi kebudayaan yang mampu menjembatani tradisi dan teknologi.

Mungkin sudah saatnya kita tidak hanya bicara tentang inovasi teknologi, tapi juga tentang inovasi sosial: bagaimana merawat nilai-nilai luhur agar tetap relevan di tengah kemajuan zaman.***