Nuansa Humanis di Tengah Aksi: Pegawai Pemprov Lampung Bagikan Makanan Ringan kepada Massa Demonstrasi

banner 468x60

MENTARI NEWS– Ribuan mahasiswa dan masyarakat yang berkumpul dalam aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Provinsi Lampung, Senin (1/9/2025), tidak hanya menyuarakan tuntutan dan aspirasi mereka. Di balik riuh orasi dan kibaran bendera, sebuah momen kecil namun penuh makna berhasil menghadirkan suasana berbeda.

Ketika terik matahari semakin menyengat siang hari, para pimpinan daerah tampak turun langsung duduk bersila bersama massa. Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Ketua DPRD Provinsi Lampung Ahmad Giri Akbar, Kapolda Irjen Pol Helmy Santika, serta Pangdam XXI/Radin Inten Mayjen Kristomei Sianturi memilih melebur dengan para mahasiswa. Mereka mendengarkan dengan saksama teriakan aspirasi yang keluar dari mimbar aksi, membaur tanpa jarak dengan rakyat yang dipimpinnya.

banner 336x280

Namun, di sela-sela ketegangan aksi yang sarat semangat perjuangan itu, muncul kejadian sederhana yang mencairkan suasana. Sejumlah pegawai Pemerintah Provinsi Lampung datang membawa plastik merah besar berisi makanan ringan. Tanpa banyak bicara, mereka menyebar ke tengah kerumunan dan membagikan camilan kepada mahasiswa serta masyarakat yang sejak pagi berdiri tegak di bawah terik matahari.

Sekejap, wajah-wajah lelah mahasiswa berubah cerah. Beberapa langsung membuka bungkus snack, ada yang saling berbagi dengan kawan di sebelahnya, sementara sebagian lagi memilih duduk santai di bawah pepohonan untuk menikmati kudapan kecil itu. Suasana yang semula serius dan penuh ketegangan mendadak terasa lebih ringan, seolah ada jeda hangat di antara lantang orasi dan deru semangat perjuangan.

Pemandangan sederhana ini menghadirkan nuansa keakraban yang jarang terlihat dalam aksi unjuk rasa. Suara orasi bersahutan dengan tawa kecil mahasiswa yang menikmati camilan, menandakan bahwa meski berada di posisi berbeda — pemerintah sebagai pengambil kebijakan dan mahasiswa sebagai pengkritik kebijakan — tetap ada ruang kebersamaan yang bisa dirasakan bersama.

Momen tersebut juga memperlihatkan sisi humanis dalam sebuah demonstrasi. Kehadiran pegawai Pemprov dengan plastik merah berisi makanan ringan bukan sekadar gestur kecil, melainkan simbol bahwa dinamika demokrasi bisa berjalan dengan damai, penuh persaudaraan, dan tetap menjaga nilai kemanusiaan. Bagi sebagian mahasiswa, kejadian itu menjadi penyegar di tengah aksi panjang yang penuh energi.

Aliansi Lampung Melawan, salah satu kelompok yang terlibat aktif dalam aksi tersebut, bahkan tampak larut dalam kebersamaan itu. Beberapa peserta duduk santai di trotoar, bercengkerama dengan kawan seperjuangan, sambil menikmati camilan sederhana. Kehangatan ini menghadirkan pesan bahwa perbedaan pandangan tidak selalu harus berujung konflik, tetapi bisa disertai momen kebersamaan yang menyatukan.

Ketika sore mulai menjelang, suasana semakin cair. Mahasiswa tetap bersemangat menyuarakan tuntutan, namun jeda-jeda kecil seperti momen pembagian camilan ini memberi energi baru untuk melanjutkan perjuangan. Dari sinilah terlihat bahwa sebuah aksi unjuk rasa bukan hanya tentang perlawanan, melainkan juga tentang kemanusiaan, solidaritas, dan cara menjaga kebersamaan dalam bingkai demokrasi.

Peristiwa sederhana yang terjadi di Bandarlampung ini menegaskan bahwa wajah demokrasi Indonesia tidak melulu diwarnai ketegangan. Ada ruang untuk tawa, ada ruang untuk berbagi, bahkan di tengah gelombang massa yang memperjuangkan haknya. Inilah bukti bahwa Lampung mampu memberi teladan: unjuk rasa bisa berlangsung damai sekaligus menghadirkan sisi humanis yang mempererat hubungan antara rakyat dan pemerintah.***

banner 336x280