MENTARI NEWS — Taman Nasional Way Kambas (TNWK) di Lampung Timur terus berbenah. Salah satu proyek yang menjadi perhatian adalah pembangunan pagar besi untuk memperkuat sistem konservasi sekaligus mencegah gajah keluar dari habitatnya dan masuk ke area permukiman warga.
Progres pembangunan kawasan konservasi tersebut kini disebut telah mencapai sekitar 75 persen.
Pembangunan ini bukan sekadar mempercantik kawasan TNWK. Infrastruktur tersebut dirancang untuk memperkuat upaya mitigasi konflik antara manusia dan gajah yang selama ini menjadi salah satu tantangan di sekitar kawasan konservasi.
Perkembangan pembangunan itu dipantau langsung Pangdam XXI/Raden Inten Mayjen TNI Kristomei Sianturi bersama jajaran, Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Polda Lampung, serta Bupati Lampung Timur saat berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas, Senin (31/8/2026).
Kunjungan tersebut sekaligus untuk melihat kondisi TNWK setelah sebelumnya terjadi kebakaran lahan serta mengecek berbagai langkah antisipasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
Pagar Besi Jadi Salah Satu Strategi Cegah Gajah Masuk Permukiman
Mayjen TNI Kristomei Sianturi mengatakan, sejumlah fasilitas telah dibangun oleh Komite Mitigasi sebagai bagian dari upaya mencegah gajah keluar dari habitatnya.
Salah satu fasilitas yang kini terlihat di sejumlah titik adalah pagar besi.
“Memang untuk memitigasi konflik antara manusia dengan gajah. Kita lihat di sepanjang ini ada pagar-pagar besi yang sudah dibuat,” kata Kristomei.
Pagar tersebut diharapkan dapat menjadi salah satu lapisan perlindungan agar pergerakan gajah tetap berada di kawasan habitatnya.
Namun, strategi mitigasi tidak berhenti pada pembangunan pagar.
Komite Mitigasi juga mengembangkan pendekatan berbasis lingkungan dan ekonomi masyarakat dengan menanam tanaman yang tidak disukai gajah serta mengembangkan budidaya lebah.
Serai menjadi salah satu tanaman yang dipilih karena aromanya dianggap dapat membantu menghalau gajah. Sementara budidaya lebah juga dikembangkan di sekitar kawasan.
“Serai dan lebah ini tidak disukai gajah sehingga turut menjaga supaya gajah tidak keluar. Hasilnya juga bisa dimanfaatkan masyarakat sekitar, seperti madu dan serai,” ujarnya.
Konsep tersebut membuat program konservasi tidak hanya berbicara soal satwa, tetapi juga bagaimana masyarakat sekitar dapat memperoleh manfaat ekonomi dari aktivitas yang tetap selaras dengan kawasan konservasi.
Way Kambas Diproyeksikan Jadi Pusat Ekowisata
Selain memperkuat konservasi, pengembangan TNWK juga diarahkan untuk mendorong potensi ekowisata.
Kristomei menyebut Way Kambas memiliki peluang besar untuk menjadi destinasi ekowisata yang tidak hanya dikenal wisatawan domestik, tetapi juga menarik perhatian wisatawan mancanegara.
Untuk mendukung pengelolaan gajah, Komite Mitigasi juga menjalin kerja sama dengan ENP Thailand.
Kerja sama tersebut berkaitan dengan peningkatan kemampuan mahout atau pawang gajah, terutama dalam metode perawatan dan pengelolaan satwa.
Dengan peningkatan kapasitas tersebut, pengelolaan gajah di TNWK diharapkan semakin profesional dan mampu mengikuti praktik konservasi yang lebih baik.
Pembangunan berbagai fasilitas tersebut ditargetkan terus dikebut hingga Oktober 2026.
Dalam keterangan Kristomei, progres keseluruhan pembangunan disebut telah berada di kisaran 65 persen, sementara pembangunan pagar dan sejumlah fasilitas tertentu dilaporkan mencapai sekitar 75 persen.
Pasca Kebakaran, Pengawasan Way Kambas Diperketat
Di sisi lain, kunjungan tersebut juga menjadi momentum untuk mengevaluasi kondisi kawasan TNWK pascakebakaran.
Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal mengatakan pemerintah bersama aparat keamanan terus melakukan pemantauan terhadap kondisi kawasan, termasuk mengantisipasi munculnya titik api baru.
Personel TNI dan Polri masih disiagakan di sekitar kawasan untuk melakukan pemantauan sekaligus menjalankan sosialisasi kepada masyarakat.
“Teman-teman dari Kodam, teman-teman dari kepolisian masih standby di sini. Ada yang melakukan sosialisasi, ada yang air monitoring,” ujar Mirza.
Selain pengawasan langsung, pemerintah juga menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi risiko kebakaran, termasuk opsi operasi modifikasi cuaca atau hujan buatan apabila diperlukan.
Upaya tersebut dinilai penting mengingat kondisi cuaca dan kekeringan dapat meningkatkan potensi kebakaran di kawasan hutan dan lahan.
Gajah Dipastikan dalam Kondisi Sehat
Persoalan lain yang tidak luput dari perhatian adalah keberadaan gajah di kawasan TNWK.
Pemerintah terus melakukan pemantauan untuk memastikan satwa tetap berada dalam kondisi baik sekaligus mengantisipasi potensi konflik dengan masyarakat.
Saat meninjau kawasan, Mirzani bahkan melihat langsung sejumlah gajah yang berada di area konservasi.
Ia memastikan kondisi satwa tersebut terlihat baik.
“Alhamdulillah, gajah-gajah yang kita lihat tadi dalam keadaan sehat,” kata Mirza.
Pembenahan TNWK kini menjadi bagian dari upaya jangka panjang untuk menjaga keseimbangan antara konservasi satwa, keselamatan masyarakat, pencegahan kebakaran, serta pengembangan ekonomi berbasis lingkungan.
Dengan pembangunan pagar besi, pengembangan tanaman penghalau gajah, budidaya lebah, peningkatan kapasitas mahout hingga pengembangan ekowisata, Way Kambas perlahan diarahkan menjadi kawasan konservasi yang tidak hanya menjaga gajah, tetapi juga memberi manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.













