Editorial Redaksi
SKYSHI MEDIA- Ketika Portugal harus berjibaku menghadapi Kolombia, DR Kongo, Kroasia hingga Spanyol hanya untuk mencapai babak gugur, Argentina justru melaju melalui jalur yang di atas kertas jauh lebih bersahabat.
Perbedaan tingkat kesulitan tersebut memunculkan satu pertanyaan yang semakin ramai diperbincangkan: apakah format dan hasil drawing Piala Dunia 2026 benar-benar menghasilkan kompetisi yang seimbang?
Perdebatan ini bukan berarti menjadi bukti bahwa FIFA mengatur hasil undian demi menguntungkan Argentina.
Hingga saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan adanya manipulasi drawing.
Namun, dalam olahraga modern, persepsi publik terhadap keadilan sama pentingnya dengan keadilan itu sendiri.
Ketika satu kandidat juara mendapat rangkaian lawan yang relatif lebih ringan, sementara kandidat lain harus menghabiskan energi melawan kekuatan-kekuatan besar sejak fase grup, FIFA tidak bisa mengabaikan munculnya pertanyaan mengenai keseimbangan kompetisi.
Faktanya, Argentina tergabung bersama Aljazair, Austria, dan Yordania pada fase grup. Di babak 32 besar mereka bertemu Cape Verde, kemudian Mesir pada babak 16 besar, dan kini menghadapi Swiss di perempat final.
Sebaliknya, Portugal sejak awal berada dalam grup yang dihuni DR Kongo, Uzbekistan, dan Kolombia, lalu harus menghadapi Kroasia pada babak 32 besar sebelum akhirnya tersingkir oleh Spanyol di babak 16 besar.
Sulit membantah bahwa beban pertandingan Portugal jauh lebih berat dibandingkan Argentina.
Memang, sepak bola mengenal prinsip bahwa drawing adalah hasil undian.
Namun, justru di sinilah tantangan terbesar format baru 48 peserta.
Dengan bertambahnya jumlah grup dan sistem lolos delapan peringkat ketiga terbaik, jalur menuju fase gugur menjadi jauh lebih kompleks dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Beberapa akademisi bahkan menilai format tersebut berpotensi menciptakan ketidakseimbangan jalur dan mengurangi prediktabilitas kompetisi sehingga perlu dievaluasi.
Kontroversi semakin membesar ketika sejumlah keputusan perwasitan dan VAR yang menguntungkan Argentina menuai kritik luas dari berbagai pengamat dan media internasional.
Tidak sedikit yang mempertanyakan konsistensi pengambilan keputusan wasit sepanjang turnamen.
Sekali lagi, kritik tersebut bukan bukti adanya rekayasa, tetapi menunjukkan bahwa FIFA menghadapi persoalan serius mengenai kepercayaan publik terhadap integritas kompetisi.
Dalam olahraga sebesar Piala Dunia, hilangnya kepercayaan publik dapat menjadi masalah yang sama besarnya dengan kesalahan di atas lapangan.
Ironisnya, Argentina sendiri sebenarnya tidak bisa disalahkan atas jalur yang mereka lalui.
Tim asuhan Lionel Scaloni hanya memainkan lawan yang telah ditentukan oleh hasil drawing dan perkembangan turnamen.
Kritik seharusnya lebih diarahkan kepada sistem kompetisi yang memungkinkan munculnya ketimpangan tingkat kesulitan antarkandidat juara.
Sebab apabila dua tim unggulan memiliki kualitas yang relatif setara, tetapi satu harus mengalahkan Kolombia, Kroasia, dan Spanyol, sedangkan yang lain baru bertemu lawan elite jauh di fase akhir, maka muncul pertanyaan apakah prinsip competitive balance benar-benar telah terwujud.
Bagi FIFA, persoalan ini bukan sekadar membuktikan bahwa drawing dilakukan secara sah.
Federasi sepak bola dunia juga memiliki tanggung jawab menjaga persepsi publik bahwa seluruh peserta memperoleh kesempatan yang setara menuju gelar juara.
Transparansi prosedur drawing, evaluasi format 48 peserta, serta konsistensi kepemimpinan wasit menjadi pekerjaan rumah yang tidak dapat ditunda apabila FIFA ingin menjaga kredibilitas turnamen terbesar di dunia ini.
Pada akhirnya, Argentina tetap harus memenangkan pertandingan di lapangan untuk menjadi juara dunia.
Namun, selama perbedaan tingkat kesulitan jalur antartim begitu mencolok, pertanyaan mengenai keadilan kompetisi akan terus muncul.
Dalam sepak bola modern, integritas bukan hanya soal benar atau salah, melainkan juga soal mampu meyakinkan miliaran penonton bahwa semua peserta benar-benar memulai perlombaan dari garis yang sama.***



















