MENTARI NEWS- Dinamika internal Partai Persatuan Pembangunan kembali menjadi sorotan. Sejumlah kader mulai menilai pentingnya soliditas dan arah strategi politik partai ke depan agar tetap relevan di tengah persaingan politik nasional.
Salah satu kader PPP, Moch. Nashir Badri, menegaskan bahwa kekuatan partai sangat ditentukan oleh kekompakan internal. Menurutnya, tanpa soliditas, partai berisiko mengalami penurunan signifikan.
“PPP itu partai besar kalau kompak. Tapi kalau tidak kompak, bisa dipastikan akan nyungsep,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa sikap kritis yang disampaikannya bukan bentuk ketidakloyalan, melainkan bagian dari perhitungan politik yang realistis. Menurutnya, kader di daerah juga perlu mempertimbangkan dampak langsung terhadap keberlangsungan hak dan kewajiban politik mereka.
“Bukan tidak loyal, tapi kita harus realistis. Ketika partai tidak memberi kontribusi yang seimbang, sementara kita sudah all out, yang terjadi justru kader akan terpuruk sendiri. Pileg 2024 sudah menjadi pelajaran penting,” katanya.
Dalam analisanya, mantan Ketua Majelis Pakar DPC PPP Kota Bandar Lampung masa bakti 2021–2026 ini menilai arah kepemimpinan dan kedekatan partai dengan sumbu politik nasional masih menjadi faktor penting dalam menjaga eksistensi partai. Ia menyinggung posisi Ketua Umum PPP saat ini, Muhammad Mardiono, yang dinilai masih berada dalam lingkaran kekuasaan.
“Pak Mardiono itu punya pengalaman ketika menjauhi lingkaran istana, partai ikut terdampak. Karenanya, yang menjadi kemungkinan untuk terus dipertahankannya adalah menjadi bagian dari istana,” ujarnya.
Sementara itu, figur lain seperti Agus Suparmanto yang disebut sebagai rival internal Mardiono, dinilai belum memberikan pengaruh signifikan selama tidak menghadirkan kontribusi konkret untuk membesarkan partai. Nashir juga menyinggung mantan ketua umum Suharso Monoarfa yang pernah mengambil langkah menjauh dari pusat kekuasaan.
“Yang terjadi adalah PPP seolah tergembosi di tengah semangat kader untuk mengembalikan kejayaan partai. Bahkan setelah kepemimpinan berganti, partai ini semakin ‘nyungsep’ akibat euforia politik dalam Pileg dan Pilpres 2024,” tambahnya.
Di sisi lain, Taj Yasin Maimoen dinilai masih bertumpu pada basis massa tradisional, khususnya di Pulau Jawa.
Nashir menegaskan bahwa kekompakan partai menjadi kunci utama. Ia berharap seluruh elit memiliki kesamaan visi dan strategi perjuangan yang dapat diimplementasikan secara selaras hingga ke tingkat akar rumput.
“Kader di bawah tidak perlu didorong untuk berbeda arah perjuangan atau berebut posisi internal tanpa mengedepankan misi membesarkan partai,” tegasnya.
Di sisi lain, ia juga menilai kader memiliki hak untuk menentukan sikap politik ke depan. Loyalitas tetap penting, namun harus diiringi dengan strategi yang jelas dan terukur.
“Kita bisa saja tetap menjadi loyalis PPP dan mengikuti arah elit. Tapi kita juga punya hak untuk mengambil sikap politik lain melalui saluran yang tersedia,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kebebasan berpolitik merupakan hak setiap kader selama tetap berada dalam koridor yang bertanggung jawab.
“Hak berpolitik itu dijamin, tapi harus dijalankan dengan pertimbangan yang matang,” pungkasnya.***















