Rocky Gerung dan Ujian Kekuasaan: Masih Berani Mengkritik atau Mulai Melunak?

banner 468x60

MENTARI NEWS- Dulu lantang mengkritik kekuasaan, kini Rocky Gerung justru disebut berada di lingkaran pemerintahan. Perubahan posisi ini memantik pertanyaan publik: apakah kritiknya tetap berdiri di atas prinsip, atau memasuki babak baru ketika ia berada lebih dekat dengan pusat kekuasaan?

Rocky dikenal sebagai pengkritik pemerintah yang tajam dan kerap melontarkan kritik keras terhadap kebijakan penguasa. Namun, kabar mengenai keterlibatannya dalam lingkungan pemerintahan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) memunculkan sorotan baru.

banner 336x280

Publik kini bukan hanya menunggu pernyataan, tetapi juga ingin melihat apakah gagasan kritisnya benar-benar memiliki pengaruh terhadap kebijakan.

Dekat dengan Kekuasaan, Konsistensi Jadi Sorotan

Di sinilah persoalan sesungguhnya.

Masuk ke pemerintahan bukan otomatis berarti mengkhianati prinsip. Namun, kedekatan dengan kekuasaan juga bukan jaminan bahwa kritik akan berubah menjadi perbaikan.

Akses terhadap pusat pengambilan keputusan bisa menjadi peluang untuk membenahi kebijakan. Di sisi lain, posisi tersebut juga dapat menjadi ujian bagi independensi seseorang yang selama ini dikenal sebagai pengkritik pemerintah.

Sindiran pun tak terhindarkan: jangan sampai kritik yang dahulu setajam pisau kehilangan daya gigit setelah berada di dekat meja kekuasaan.

Meski demikian, anggapan bahwa Rocky telah berubah haluan juga belum layak dijadikan kesimpulan tanpa bukti konkret. Penilaian terhadap konsistensinya perlu didasarkan pada sikap, pernyataan, dan tindakan yang dapat diperiksa publik.

Bukan Sekadar Reputasi, tetapi Keberanian Mengoreksi

Ukuran konsistensi seharusnya sederhana: apakah ia tetap berani menyuarakan persoalan, mengoreksi kebijakan yang bermasalah, dan mempertahankan prinsip yang dahulu diperjuangkannya?

Ataukah kritik hanya terdengar keras ketika seseorang berada di luar lingkaran kekuasaan?

Pertanyaan tersebut tidak cukup dijawab melalui pernyataan atau reputasi masa lalu. Publik perlu melihat bagaimana gagasan disampaikan, apakah kritik terhadap kebijakan tetap terbuka, serta apakah masukan yang diberikan menghasilkan perbaikan yang dapat diukur.

Pada akhirnya, publik tidak membutuhkan sekadar reputasi sebagai kritikus ataupun jabatan bergengsi. Yang dibutuhkan adalah kontribusi nyata, sikap yang dapat diuji, dan keberanian mempertanggungjawabkan gagasan.

Sebab, ujian terbesar seorang pengkritik bukan hanya ketika ia berani melawan kekuasaan, melainkan juga ketika ia berada di dekat kekuasaan dan tetap berani mengatakan apa yang perlu dikoreksi.***

banner 336x280