MENTARI NEWS– Agenda diskusi publik dan screening film dokumenter Pesta Babi kembali mengalami perpindahan lokasi menjelang pelaksanaan kegiatan. Setelah sebelumnya dipindahkan dari area Kampus Universitas Malahayati ke Roemah Jus di Jalan Pramuka, kini panitia memastikan kegiatan kembali bergeser ke lokasi baru yang akan diumumkan kemudian.
Ketua pelaksana kegiatan, Muhammad Yasir Setiawan, menjelaskan bahwa perpindahan lokasi kali ini terjadi setelah pihak Roemah Jus secara mendadak membatalkan penggunaan tempat. Menurut Yasir, pembatalan tersebut dilakukan setelah pihak pengelola lokasi mempertimbangkan status pekerjaan mereka sebagai aparatur sipil negara (ASN).
“Kami dihubungi langsung oleh owner Roemah Jus bahwa mereka telah mempertimbangkan kembali penggunaan tempat untuk acara ini. Informasinya, penanggung jawab lokasi merasa khawatir terkait statusnya sebagai ASN di salah satu instansi pemerintahan di Lampung. Kami menghormati keputusan tersebut, walaupun tentu sangat kami sayangkan,” ujar Yasir, Kamis (14/5/2026).
Meski demikian, Yasir memastikan panitia telah bergerak cepat mencari tempat pengganti dan memastikan kegiatan diskusi serta pemutaran film tetap berjalan sesuai rencana.
“Alhamdulillah kami langsung mendapatkan tempat yang lebih proper dan lebih luas. Lokasinya akan segera kami sampaikan,” lanjutnya.
Menurut Yasir, dinamika yang terjadi menjelang kegiatan menunjukkan masih adanya rasa takut di tengah masyarakat untuk terlibat dalam ruang diskusi publik, khususnya terhadap isu sosial dan lingkungan hidup.
Ia menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama karena diskusi publik dan karya film sejatinya merupakan bagian dari ruang edukasi masyarakat yang sehat dan terbuka.
“Kami sangat menyayangkan ketika ada masyarakat, khususnya yang berkaitan dengan pemerintahan atau ASN, memilih menjaga jarak dari ruang diskusi seperti ini karena khawatir terhadap karier atau penilaian tertentu. Padahal diskusi publik dan film adalah bagian dari ruang edukasi masyarakat,” katanya.
Yasir juga menyinggung berbagai bencana lingkungan yang terjadi di sejumlah wilayah Sumatera sebagai pengingat penting bahwa isu lingkungan hidup harus dibahas secara serius dan terbuka.
Ia mencontohkan bencana banjir bandang yang melanda Aceh, Sumatera Barat, Sumatera Utara, hingga Musi Rawas dalam beberapa waktu terakhir, termasuk persoalan banjir yang terus terjadi di Bandar Lampung setiap musim penghujan.
“Kita melihat sendiri bagaimana beberapa wilayah di Sumatera mengalami bencana besar akibat kerusakan lingkungan. Ini bukan persoalan kecil. Karena itu masyarakat harus berani berdiskusi dan peduli terhadap kondisi sosial maupun lingkungan di sekitar kita,” ujarnya.
Panitia menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan diskusi dan screening film Pesta Babi adalah membangun kesadaran publik terhadap isu lingkungan, sosial, serta pentingnya budaya berpikir kritis di tengah masyarakat.
Yasir bahkan menyebut fenomena pembatalan lokasi secara berulang memperlihatkan adanya hubungan antara rasa takut dan sikap apatis dalam kehidupan sosial.
“Melihat dinamika yang ada, pembubaran dan penghalangan di beberapa wilayah, lalu kami juga mengalami perpindahan dari kampus ke kafe hingga kembali dibatalkan karena alasan takut, saya menyampaikan bahwa takut dan apatis itu berhubungan,” tegasnya.
Meski menghadapi berbagai kendala, panitia memastikan agenda diskusi dan screening film tetap dilaksanakan sebagai bentuk komitmen menghadirkan ruang dialog yang sehat, terbuka, dan edukatif bagi masyarakat lintas generasi.***















