MENTARI NEWS- Di tengah dunia yang semakin terdigitalisasi, media sosial telah menjadi ruang baru bagi ekspresi solidaritas. Mulai dari penggalangan dana daring, kampanye kesadaran, hingga dukungan moral melalui tagar dan unggahan, jejaring virtual tampaknya mampu menyatukan banyak orang untuk satu tujuan.
Namun, di balik kemudahan menyuarakan empati hanya dengan satu klik, muncul pertanyaan penting: Apakah solidaritas di media sosial benar-benar tulus, atau hanya bagian dari tren pencitraan digital semata?
Solidaritas Digital: Cepat, Masif, dan Menjangkau Jauh
Salah satu kelebihan media sosial adalah kemampuannya menyebarkan informasi secara cepat dan luas. Dalam hitungan menit, kisah pilu seorang korban bencana bisa viral dan mengundang gelombang simpati dari ribuan pengguna.
Contohnya, ketika terjadi gempa di Cianjur pada akhir 2022, berbagai platform media sosial dipenuhi ajakan donasi dan doa. Akun pribadi, selebriti, hingga influencer berlomba menyuarakan bantuan, yang dalam beberapa kasus berhasil mengumpulkan dana miliaran rupiah hanya dalam waktu singkat.
“Media sosial membantu kami menjangkau orang-orang yang sebelumnya tidak kami kenal. Tanpa itu, penggalangan dana bisa jauh lebih lambat,” ujar Indah, relawan sebuah komunitas kemanusiaan.
Fenomena “Solidaritas Instan” dan Tren Hashtag
Namun, di sisi lain, banyak pihak mengkritik munculnya fenomena “solidaritas instan” yang cepat muncul dan cepat pula menghilang. Kampanye yang viral hari ini bisa hilang dari perbincangan esok hari, tergantikan oleh isu baru yang lebih menarik secara visual atau emosional.
Di sinilah muncul istilah “slacktivism” — aktivisme yang minim usaha, cukup dengan menyukai, membagikan, atau mengunggah konten solidaritas tanpa tindakan nyata di dunia nyata.
“Seringkali, orang lebih peduli tampil empati daripada benar-benar peduli. Mereka ikut-ikutan karena ingin terlihat peduli, bukan karena betul-betul tergugah,” kata Doni, pengamat media dari sebuah lembaga riset komunikasi.
Pencitraan atau Kepekaan Sosial?
Tak bisa dipungkiri, solidaritas di media sosial juga bisa menjadi panggung pencitraan. Banyak pengguna — termasuk publik figur — yang memanfaatkan momentum solidaritas untuk membangun citra positif, meski kadang tanpa keterlibatan langsung dalam aksi sosial.
Namun, tidak adil juga mengabaikan dampak riil dari solidaritas digital. Di banyak kasus, media sosial berhasil membuka akses informasi, menghubungkan pihak-pihak yang membutuhkan, dan menciptakan jejaring bantuan lintas batas.
Kuncinya ada pada konsistensi dan kejujuran dalam niat.
Membangun Solidaritas yang Berkelanjutan
Agar solidaritas tak berhenti di layar, dibutuhkan kesadaran kolektif untuk menindaklanjuti simpati menjadi aksi nyata. Donasi yang bertanggung jawab, terlibat dalam kegiatan komunitas, hingga menyuarakan isu sosial secara terus-menerus adalah bentuk solidaritas yang berdampak panjang.
Lebih dari sekadar tagar trending, solidaritas sejati ditunjukkan lewat komitmen yang melampaui batas waktu dan sorotan kamera.
Media sosial adalah alat yang luar biasa dalam membangun solidaritas. Tapi apakah empati itu benar-benar mengakar atau hanya sebatas tren, tergantung pada niat dan tindakan setelah unggahan dibuat. Di era digital ini, solidaritas tidak hanya tentang terlihat peduli, tetapi tentang benar-benar peduli — secara nyata, konsisten, dan bertanggung jawab.***













