MENTARI NEWS- Suasana pasar tradisional masih riuh oleh suara tawar-menawar, aroma bumbu dapur, dan keramaian pedagang kaki lima yang setia sejak subuh. Namun kini, di balik layar ponsel pintar, muncul ‘pasar’ lain yang lebih tenang tapi tak kalah ramai: marketplace digital.
Fenomena ini menciptakan dinamika harga yang menarik. Dari kios konvensional ke keranjang virtual, pertarungan harga dan strategi jual beli mengalami pergeseran besar. Siapa yang diuntungkan? Siapa yang terpinggirkan?
Pasar Tradisional: Fleksibel, Tapi Rentan
Pasar tradisional masih jadi jantung ekonomi masyarakat di banyak daerah. Harga di sini bersifat dinamis dan bisa berubah seiring pasokan, musim, dan bahkan relasi personal antar pedagang dan pembeli.
“Kadang kita bisa nawar, tergantung kenal atau enggak,” ujar Bu Reni, pedagang sayur di Pasar Gede Solo. Namun, ia juga mengakui, harga bisa melonjak drastis karena distribusi terganggu atau pasokan minim.
Masalah lainnya adalah transparansi harga. Tidak semua pembeli mendapat harga yang sama, tergantung keahlian menawar atau kebiasaan pasar.
Pasar Digital: Transparan, Tapi Tidak Selalu Murah
Marketplace online menawarkan harga yang lebih “terlihat”. Pembeli bisa membandingkan satu produk dari banyak penjual dalam hitungan detik. Diskon besar, gratis ongkir, hingga sistem rating memudahkan konsumen membuat pilihan.
Namun, benarkah selalu lebih murah?
“Kadang harga lebih tinggi dari pasar biasa, tapi kita tetap beli karena praktis dan hemat waktu,” kata Andri (29), pengguna setia e-commerce.
Di balik kemudahan itu, ada biaya tersembunyi: ongkos pengemasan, margin platform, dan logistik yang kadang justru membuat harga tak sekompetitif yang dibayangkan.
Pedagang Tradisional Vs Penjual Online: Persaingan atau Kolaborasi?
Sebagian pedagang pasar mulai merambah platform digital, menjual sayur dan bumbu via WhatsApp atau e-commerce lokal. Tapi tak sedikit pula yang gagap teknologi.
“Kalau saya, belum bisa ikut-ikutan jualan online. Ribet, enggak ngerti,” aku Pak Ahmad, pedagang buah.
Kesenjangan digital ini menjadi tantangan serius bagi pelaku UMKM di pasar tradisional. Perlu dukungan pelatihan, infrastruktur digital, dan akses teknologi yang merata.
Konsumen: Punya Dua Dunia, Punya Dua Pilihan
Bagi konsumen, keberadaan dua jenis pasar ini memperluas pilihan. Ada fleksibilitas, tetapi juga kebingungan. Produk yang sama bisa berbeda harga tergantung tempat, waktu, dan saluran pembelian.
Hal ini memunculkan fenomena “window shopping digital, belanja konvensional”—di mana konsumen membandingkan harga di marketplace tapi tetap membeli langsung ke pasar untuk memastikan kualitas.
Masa Depan: Bukan Saling Menggantikan, Tapi Saling Melengkapi
Pasar tradisional dan digital tak harus saling menyingkirkan. Dengan pendekatan yang tepat, keduanya bisa berkolaborasi. Pemerintah daerah bisa menggagas sistem digitalisasi pasar tradisional, seperti pemesanan daring dengan pengiriman lokal, atau sistem informasi harga berbasis aplikasi.
“Yang kita butuhkan bukan mengganti pasar lama, tapi memberi mereka alat baru untuk bertahan,” kata M. Rizal, pakar ekonomi digital dari Universitas Indonesia.
Harga Tak Sekadar Angka
Harga bukan hanya soal rupiah. Ia mencerminkan kenyamanan, pengalaman, dan nilai sosial dari proses jual beli. Di tengah gempuran digitalisasi, mempertahankan semangat gotong royong dan keberlanjutan pasar rakyat tetap penting.
Karena sejatinya, baik pasar tradisional maupun digital, harus mampu memberi keadilan—bagi yang menjual, maupun yang membeli.***













