MENTARI NEWS- Di tengah kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI) yang semakin meresap ke berbagai aspek kehidupan, keberadaan tari tradisional menghadapi persimpangan jalan. Satu sisi berupaya melestarikan budaya leluhur, sisi lain berhadapan dengan tuntutan industri hiburan dan komersialisasi.
Apakah AI dapat membantu menjaga eksistensi seni tradisi ini? Ataukah justru menggerus esensinya menjadi sekadar tontonan yang kehilangan makna?
Tari Tradisional: Ekspresi Budaya, Bukan Sekadar Pertunjukan
Tari tradisional Indonesia bukan hanya seni gerak. Ia menyimpan filosofi, sejarah, bahkan nilai-nilai sosial yang diwariskan lintas generasi. Dari Tari Saman yang sarat makna kebersamaan, hingga Tari Legong yang menggambarkan keanggunan dan ketepatan—setiap gerakan punya cerita.
Namun, dalam banyak kasus, esensi tersebut terkikis oleh tuntutan pertunjukan instan. Banyak penampilan tari kini dikemas untuk konsumsi wisatawan atau konten media sosial, dengan durasi lebih singkat dan gerakan yang disederhanakan.
Komersialisasi: Memajukan atau Mereduksi?
Komersialisasi seni memang tak bisa dihindari. Di satu sisi, ia membuka peluang ekonomi bagi para seniman. Festival budaya, video promosi pariwisata, hingga konten TikTok bisa menjadi ladang rezeki.
Namun, persoalannya terletak pada bagaimana tari itu dikemas: apakah tetap setia pada pakem budaya, atau justru berubah total demi daya tarik pasar? Ketika tarian sakral dibawakan tanpa pemahaman nilai spiritualnya, maka seni berubah fungsi—dari medium pemaknaan menjadi sekadar hiburan.
Peran AI: Peluang Baru atau Ancaman Identitas?
Kecerdasan buatan sudah mulai digunakan untuk mendokumentasikan, menganalisis, bahkan mereplikasi gerakan tari tradisional. Beberapa peneliti mengembangkan sistem AI untuk menciptakan arsip gerakan digital yang dapat digunakan generasi muda mempelajari tari secara daring.
Tapi teknologi ini juga menyimpan kekhawatiran. Bayangkan jika tarian-tarian suci dapat didemokan avatar digital tanpa pelaku manusia. Apakah kita sedang melestarikan atau menghilangkan jiwa dari sebuah warisan budaya?
Pelestarian Sejati Butuh Pendekatan Manusiawi
Meski AI menawarkan efisiensi dan akses luas, pelestarian tari tradisional sejatinya harus berbasis manusia—dari guru ke murid, dari pentas ke hati penonton. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti proses pewarisan nilai.
Pemerintah, komunitas seni, dan pelaku teknologi perlu duduk bersama: bagaimana memanfaatkan AI untuk memperkuat budaya, bukan sekadar memonetisasinya?
Melangkah di Antara Dua Dunia
Pelestarian dan komersialisasi tidak harus bertolak belakang. Dengan pendekatan etis dan edukatif, tari tradisional bisa berkembang tanpa kehilangan akar budayanya. AI harus diarahkan untuk mendukung tujuan itu, bukan menggantikannya.
Tantangannya bukan hanya soal teknologi, tapi juga soal kesadaran kolektif: bahwa di balik setiap gerakan tari, ada jiwa yang tak bisa disalin oleh mesin.***












