MENTARI NEWS- Di tengah derasnya arus informasi, media sosial menjadi ruang baru bagi masyarakat untuk menunjukkan kepedulian. Mulai dari kampanye donasi, dukungan terhadap isu kemanusiaan, hingga gerakan sosial yang viral, solidaritas kini bisa muncul dalam hitungan menit. Namun, pertanyaannya: apakah semua bentuk solidaritas ini benar-benar tulus atau hanya sekadar tren digital yang cepat hilang?
Fenomena “solidaritas online” membuat aksi sosial menjadi lebih mudah diakses. Satu unggahan dengan tagar tertentu dapat menggerakkan ribuan orang untuk berdonasi atau menyuarakan dukungan. Dari bencana alam hingga isu hak asasi manusia, media sosial membuka pintu bagi partisipasi yang lebih luas.
Namun, di sisi lain, tren ini memunculkan istilah *slacktivism*—aktivisme yang minim aksi nyata. Banyak orang merasa sudah “berpartisipasi” hanya dengan membagikan unggahan atau mengganti foto profil, tanpa terlibat lebih jauh. Akibatnya, beberapa gerakan sosial yang sempat viral menghilang begitu saja ketika sorotan media meredup.
Pengamat komunikasi menilai, tantangan solidaritas di era digital adalah memastikan bahwa semangat yang muncul di dunia maya bisa terwujud dalam aksi nyata di lapangan. Edukasi publik, transparansi pengelolaan dana donasi, dan keterlibatan langsung menjadi kunci agar solidaritas tidak sekadar menjadi euforia sementara.
Era media sosial memang memudahkan kepedulian, tetapi ujian sesungguhnya adalah keberlanjutan. Apakah kita siap membawa solidaritas digital menjadi perubahan nyata yang bertahan lama?***













