Kapasitas Stadion Sumpah Pemuda Terbuang, Bhayangkara Presisi Lampung FC Bikin Stadion Lowong!

banner 468x60

MENTARI NEWS– Suasana stadion yang sepi di tengah laga Bhayangkara Presisi Lampung FC kontra Persita pada Sabtu, 2 November 2025, membuat banyak pihak bertanya-tanya. Stadion Sumpah Pemuda Way Halim yang memiliki kapasitas belasan ribu penonton tampak nyaris kosong, padahal klub ini resmi bernaung di bawah institusi kepolisian, dengan pengurus besar yang berasal dari jajaran Polda Lampung dan Polresta Bandar Lampung.

Bhayangkara Presisi Lampung FC memang unik. Klub yang identik dengan Polri ini memiliki struktur manajemen yang rapi: Irjen Pol. Agus Suryonugroho sebagai CEO, Kombes Pol. Sumardji sebagai COO, dan AKBP Reza Arifian sebagai Manajer Tim. Semua pihak mengetahui dan sadar bahwa stadion serta fasilitas yang digunakan sepenuhnya milik Polri. Dengan modal besar seperti itu, banyak yang mengira stadion akan selalu penuh dengan dukungan anggota Polri, apalagi jumlah personel Polda Lampung pada 2022 tercatat lebih dari 11.500 orang.

banner 336x280

Faktanya, setengah dari jumlah personel tersebut pun tidak hadir di stadion. Hal ini membuat kapasitas besar Stadion Sumpah Pemuda terbuang percuma. Para pengamat olahraga dan warganet menilai kondisi ini sebagai simbol insolidaritas, bahkan ada yang menilai Bhayangkara Presisi Lampung FC gagal membangun atmosfer dukungan internal dari institusi sendiri.

Sejak pembentukan kelompok suporter seperti elBhara pada April 2025 dan Sikambhara pada Mei 2025, Bhayangkara Presisi tampak tidak terlalu membutuhkan dukungan eksternal. Namun, fakta lapangan menunjukkan bahwa tanpa kehadiran suporter yang nyata, pertandingan tetap terasa hampa. Meski demikian, klub ini tetap dijalankan secara profesional dengan ekspektasi tinggi dari internal Polri dan penggemar sepakbola lokal.

Eks pelatih kepala PSM Makassar, Bernardo Tavares, sempat memuji atmosfer sepakbola Bandar Lampung saat laga perdana Bhayangkara Presisi di kandang. Ia membandingkan kondisi stadion dengan Pare-Pare, Sulawesi Selatan, dan menilai potensi dukungan suporter di Lampung sangat menjanjikan. Sayangnya, Sabtu lalu seakan menodai pujian tulus tersebut. Stadion yang bisa menampung ribuan penonton justru tampak sepi, meninggalkan pertanyaan besar soal strategi pengelolaan klub dan bagaimana membangun keterikatan antara tim dan penggemar, terutama dari internal kepolisian.

Selain itu, kondisi ini juga berdampak pada putaran ekonomi stadion. Penjualan tiket dan merchandise yang biasanya menjadi sumber pendapatan tambahan untuk operasional tim tidak maksimal. Para anggota Polri, yang secara finansial mampu membeli tiket, nyatanya lebih memilih tidak hadir. Ini menjadi tantangan serius bagi manajemen Bhayangkara Presisi Lampung FC untuk menciptakan atmosfer pertandingan yang hidup dan mendukung strategi marketing klub.

Kasus ini menimbulkan perdebatan hangat di media sosial. Netizen mempertanyakan apakah klub sepakbola yang berada di bawah institusi negara seharusnya mampu memaksimalkan dukungan internal, atau apakah kultur dukungan di Lampung memang berbeda dibanding kota-kota lain di Indonesia. Beberapa komentar bahkan menyindir istilah “stadion mubazir” karena kapasitas besar hanya digunakan sebagian kecil.

Meski begitu, Bhayangkara Presisi Lampung FC tetap menjadi simbol profesionalisme dan potensi sepakbola Lampung. Tantangan terbesar kini adalah bagaimana membangun loyalitas suporter internal dan eksternal, agar stadion yang megah ini tidak hanya menjadi simbol belaka, tetapi juga pusat energi positif bagi sepakbola Lampung.***

banner 336x280