MENTARI NEWS- Sejak diluncurkan pada 2020, Program Kartu Prakerja digadang-gadang sebagai terobosan untuk meningkatkan keterampilan angkatan kerja di Indonesia. Dirancang sebagai program semi-bantuan sosial sekaligus pelatihan digital, Kartu Prakerja menyasar mereka yang ingin meningkatkan kompetensi kerja—terutama pasca-pandemi dan gelombang PHK massal.
Namun, setelah berjalan beberapa tahun, muncul pertanyaan penting: Apakah Kartu Prakerja benar-benar efektif? Apa manfaatnya dan di mana tantangannya?
Apa Itu Kartu Prakerja?
Kartu Prakerja adalah program pelatihan berbasis digital yang memberikan insentif kepada peserta berupa saldo pelatihan dan uang tunai setelah menyelesaikan pelatihan. Sasarannya adalah pencari kerja, pekerja yang terkena PHK, atau mereka yang ingin meningkatkan keterampilan.
Manfaat yang Terasa Nyata
- Akses Pelatihan Lebih Mudah
Dengan sistem daring, siapa saja bisa ikut pelatihan dari rumah. Mulai dari pelatihan memasak, desain grafis, manajemen keuangan, hingga coding. - Insentif Langsung untuk Peserta
Setelah menyelesaikan pelatihan, peserta mendapat insentif yang bisa digunakan untuk kebutuhan hidup atau modal usaha kecil. - Peningkatan Skill Digital dan Wirausaha
Banyak peserta merasa lebih percaya diri melamar kerja atau memulai usaha mandiri setelah mengikuti pelatihan. - Fleksibel dan Luas
Dengan puluhan mitra pelatihan, peserta bebas memilih topik sesuai minat dan kebutuhan.
Tantangan dan Kritik yang Tak Bisa Diabaikan
- Distribusi yang Kurang Merata
Masih banyak warga di daerah terpencil yang tidak bisa mengakses program ini karena keterbatasan internet atau perangkat. - Pelatihan Kurang Praktis
Beberapa pelatihan dianggap terlalu umum, tidak kontekstual, bahkan tidak relevan dengan dunia kerja saat ini. - Minimnya Pengawasan dan Evaluasi Efektif
Tidak semua pelatihan memiliki kualitas yang sama. Belum ada sistem evaluasi yang kuat untuk memastikan hasilnya berdampak nyata. - Kesenjangan Digital
Program ini belum sepenuhnya ramah untuk masyarakat dengan literasi digital rendah. Akibatnya, sebagian peserta hanya ikut pelatihan demi insentif, tanpa menyerap ilmunya.
Apakah Program Ini Masih Relevan?
Jawabannya: masih, tapi perlu perbaikan serius. Evaluasi berkelanjutan sangat penting agar program tidak hanya jadi formalitas bantuan tunai, tapi benar-benar menjadi alat mobilitas sosial yang memperkuat sumber daya manusia Indonesia.
Potensi Besar, Perlu Arah Jelas
Kartu Prakerja punya potensi besar sebagai solusi inovatif di era digital. Tapi agar manfaatnya tak hanya dinikmati segelintir orang dan benar-benar menjangkau akar rumput, perlu pembenahan dari segi kualitas pelatihan, pengawasan, dan inklusivitas. Saatnya pemerintah dan pemangku kepentingan mengarahkan program ini agar tidak sekadar populer, tetapi benar-benar berdampak.***














