MENTARI NEWS — Istilah populisme semakin sering muncul di berbagai perbincangan politik, baik di media sosial, debat publik, maupun dalam kampanye pemilu. Tapi sebenarnya, apa arti populisme? Dan bagaimana pengaruhnya terhadap ruang publik?
Apa Itu Populisme?
Secara sederhana, populisme adalah pendekatan politik yang mengklaim membela “suara rakyat biasa” melawan “elit penguasa”. Para pemimpin populis kerap menyuarakan ketidakpuasan masyarakat, menyederhanakan persoalan kompleks, dan menawarkan solusi cepat yang terdengar menarik—meskipun belum tentu realistis.
Populisme tidak selalu berasal dari satu ideologi tertentu. Ia bisa muncul dari sayap kiri maupun kanan politik, tergantung pada konteks dan isu yang sedang berkembang di masyarakat.
Bagaimana Pengaruhnya di Ruang Publik?
Populisme seringkali menciptakan pembelahan opini di masyarakat. Di satu sisi, ia mampu membangkitkan partisipasi warga yang sebelumnya apatis. Di sisi lain, populisme juga bisa memperkuat polarisasi dan menyederhanakan diskusi publik menjadi “kami vs mereka”.
“Populisme bisa jadi alat demokrasi yang kuat, tapi juga bisa menjadi pedang bermata dua,” ujar seorang pengamat politik.
Di ruang publik—terutama media sosial—narasi populis sering dikemas secara emosional dan mudah viral. Hal ini membuat masyarakat lebih rentan terhadap informasi sepihak, hoaks, atau janji-janji bombastis tanpa dasar kuat.
Populisme di Indonesia
Dalam konteks Indonesia, populisme bisa dilihat dalam berbagai bentuk, mulai dari retorika anti-asing, janji penurunan harga kebutuhan pokok, hingga narasi pemimpin ‘dekat dengan rakyat’. Semua ini menunjukkan bagaimana strategi populis digunakan untuk menarik simpati dan suara publik.
Namun, penting bagi masyarakat untuk tetap kritis. Populisme bisa memberi ruang bagi perubahan, tapi juga bisa menutup ruang rasionalitas dan dialog sehat jika tak diimbangi dengan literasi politik yang memadai.***


















