Puisi Satire “Debu Liar di Mata Wali Kota” Guncang Wacana Publik: Kritik Sosial dari Penyair Muda Lampung

banner 468x60

MENTARI NEWS– Dunia sastra Lampung kembali bergema lewat karya seorang penyair muda bernama Muhammad Alfariezie. Sosok yang berprofesi ganda sebagai jurnalis sekaligus guru Bahasa Indonesia dan Olahraga di SMK Samudera Bandar Lampung ini sukses menyalurkan kritik sosial melalui prosa liris bernuansa satire yang diberi judul “Debu Liar di Mata Wali Kota”.

Sekolah tempat Alfariezie mengajar dikenal fokus pada keahlian broadcasting dan teknik komputer jaringan (TKJ). Dari ruang kelas dan aktivitas jurnalistik, lahirlah sebuah karya yang bukan sekadar rangkaian kata, tetapi juga gugatan terhadap realitas politik dan pendidikan di daerah. Melalui gaya puisi naratif dengan imagery yang kuat, karyanya menyingkap wajah lain relasi kekuasaan.

banner 336x280

Debu Liar di Mata Wali Kota

Di sini ada yang terlunta
karena cinta, ialah kepala sekolah swasta
yang memilih bunda menjadi wali kota

Mereka pohon bulan pinggir jalan padahal
sebelum bunda jadi wali kota, mereka
anggrek putih di vas bunga halaman istana

Dulu mereka selalu ada yang merawat
ketika pagi dan kebutuhan mereka terpenuhi
ketika senja asyik bernyanyi

Dulu juga, kala hujan berpetir angin kencang,
mereka selamat dari segala ancaman

Tapi sekarang mereka terancam setelah dulu
ramai-ramai bernyanyi merdu dalam kampanye
kemenangan hingga bunda berhasil memimpin kota

Sekarang ancaman mereka bukan hanya dari debu
dan krisis musim, tapi dari gergaji bunda yang siap
menebang keliaran

Padahal jika tanpa cinta mereka maka belum tentu
dia walikota

Empat Teknik Gaya Sastra dalam Karya Muhammad Alfariezie

1. Majas (Figure of Speech)
Penggunaan majas menjadi ciri kuat Alfariezie. Ia mengolah metafora, personifikasi, hingga hiperbola untuk memperkuat daya pukau puisinya.

Metafora: “pohon bulan pinggir jalan” melambangkan guru swasta yang terpinggirkan; “anggrek putih di vas bunga istana” melambangkan kehormatan yang dulu pernah ada; “gergaji bunda” menjadi simbol kekuasaan yang justru mengancam.
Personifikasi: “senja asyik bernyanyi” menghadirkan suasana hidup dalam teks, membuat pembaca seolah melihat dan merasakan kondisi itu.
Hiperbola: “ramai-ramai bernyanyi merdu dalam kampanye kemenangan” menekankan euforia dukungan politik, meski tidak terjadi dalam arti sebenarnya.

2. Simbolisme
Simbol adalah bahasa kedua dari puisi ini. Kepala sekolah swasta digambarkan sebagai pohon dan anggrek putih—makhluk indah yang dulunya dijaga, kini terbuang. Debu dan krisis musim menjadi representasi kesulitan hidup, sementara “gergaji bunda” menjadi alegori kebijakan politik yang siap menebas kehidupan mereka.

3. Diksi (Pemilihan Kata)
Kekuatan puisi Alfariezie juga tampak dari pilihan kata yang sederhana tetapi berlapis makna. Kontras diksi “dulu” dan “sekarang” memperkuat ironi perubahan nasib. Kata-kata puitis seperti “senja bernyanyi” dan “anggrek putih di vas bunga istana” menambahkan kedalaman emosional.

4. Gaya Retoris
Alfariezie menekankan ironi melalui kontras “dulu” vs “sekarang” serta menghadirkan satire sosial yang diarahkan pada figur “bunda” sebagai wali kota. Teknik ini membuat puisinya tak hanya indah, tetapi juga tajam dalam menyampaikan kritik.

Prosa Liris sebagai Kritik Sosial
“Debu Liar di Mata Wali Kota” bukan sekadar karya sastra, melainkan representasi suara yang terlupakan. Ia menggambarkan bagaimana kepala sekolah swasta yang dulu berjasa dalam kemenangan politik kini terpinggirkan, dianggap sekadar “debu liar”. Perubahan status dari “anggrek putih” menjadi “pohon bulan pinggir jalan” adalah refleksi nyata tentang bagaimana kekuasaan seringkali melupakan kontribusi mereka yang pernah membantu.

Menggugat Relasi Pendidikan dan Kekuasaan
Lebih jauh, puisi ini menjadi alegori tentang relasi timpang antara dunia pendidikan swasta dengan kekuasaan politik. Kritiknya diarahkan pada fenomena instrumentalitas pendidikan yang dijadikan alat mobilisasi politik, tetapi ditinggalkan setelah kemenangan diraih. Melalui karya ini, Alfariezie mempertanyakan: apakah nilai perjuangan guru dan sekolah swasta hanya sebatas alat?

Penyair Muda dengan Jejak Ganda
Sebagai guru dan jurnalis, Muhammad Alfariezie menegaskan posisinya sebagai intelektual muda yang berani bersuara. Karyanya menjadi bukti bahwa sastra tetap relevan sebagai media kritik sosial. Ia memadukan keindahan estetika dengan keberanian politik, menciptakan karya yang memantik diskusi publik.

Puisi ini menegaskan bahwa kritik tidak selalu harus disampaikan dengan amarah, melainkan bisa dibalut dengan estetika. Dalam “Debu Liar di Mata Wali Kota”, sastra kembali berperan sebagai medium perlawanan yang elegan.***

banner 336x280