MENTARI NEWS- Sekali klik, barang datang. Sekali geser layar, promo bertaburan. Di era digital, berbelanja tak lagi soal kebutuhan, tapi sering kali menjadi pelarian, hiburan, bahkan gaya hidup. Budaya konsumtif tumbuh subur dalam dunia yang terkoneksi 24/7. Tapi pertanyaannya: ini tren modern yang wajar, atau ancaman yang diam-diam menggerogoti stabilitas keuangan generasi kita?
Budaya Konsumtif: Antara Keinginan dan Kebutuhan
Sebelum internet merajalela, aktivitas belanja membutuhkan usaha: keluar rumah, mencari toko, membandingkan harga secara manual. Kini, segalanya berubah. Dengan platform e-commerce, promo kilat, diskon tengah malam, dan iklan personalisasi, belanja hanya sejauh jempol.
Ironisnya, yang dibeli bukan selalu yang dibutuhkan. Dalam banyak kasus, konsumen lebih terdorong oleh keinginan instan dan dorongan emosional. FOMO (fear of missing out), impulsif, dan “demi konten” menjadi pemicu utama.
Gaya Hidup “Flexing” dan Tekanan Sosial Media
Di Instagram atau TikTok, barang branded, gadget terbaru, dan liburan mahal menjadi simbol keberhasilan. Tanpa sadar, media sosial menciptakan standar gaya hidup yang tidak semua orang mampu ikuti. Akibatnya, banyak yang terjebak dalam siklus konsumsi demi validasi sosial.
Tak sedikit orang yang rela mencicil barang-barang mewah hanya untuk tampil ‘layak’ di feed. Inilah bentuk baru tekanan sosial: bukan lagi sekadar tetangga yang iri, tapi ribuan mata digital yang menilai setiap unggahan.
Buy Now Pay Later: Kemudahan yang Menyesatkan?
Fasilitas paylater dan credit card digital memang menawarkan kemudahan. Tapi di baliknya, tersembunyi risiko besar. Banyak pengguna yang tergoda membeli di luar kemampuan, hingga akhirnya terjebak utang konsumtif.
Data dari berbagai platform fintech menunjukkan peningkatan signifikan dalam penggunaan paylater, khususnya di kalangan milenial dan Gen Z. Sayangnya, pemahaman literasi keuangan tidak selalu sejalan dengan kemudahan aksesnya.
Efek Jangka Panjang: Mental dan Finansial
Budaya konsumtif bukan hanya berdampak pada dompet, tapi juga pada kesehatan mental. Perasaan tak pernah cukup, kecemasan akibat utang, hingga tekanan untuk selalu tampil sempurna bisa menimbulkan stres kronis.
Dalam jangka panjang, gaya hidup boros menghambat kemampuan untuk menabung, berinvestasi, dan membangun masa depan finansial yang stabil. Ujungnya, kualitas hidup bisa menurun, meski penampilan di media sosial tampak bersinar.
Kembali ke Kesadaran Konsumtif yang Sehat
Bukan berarti teknologi harus disalahkan. Dunia digital menawarkan kemudahan yang luar biasa. Namun, kita perlu kembali mengatur ulang cara berpikir dan bertindak sebagai konsumen. Mengajukan pertanyaan sederhana seperti: “Apakah aku butuh ini?” atau “Apa ini sepadan dengan kerja kerasku?” bisa menjadi langkah awal.
Pendidikan literasi keuangan, kampanye hidup minimalis, dan keberanian untuk tidak ikut-ikutan bisa menjadi kunci melawan arus konsumtif.
Penutup: Tren Bisa Diikuti, Tapi Bijak Lebih Penting
Budaya konsumtif di era digital memang tak terhindarkan. Tapi apakah kita mau jadi korban atau justru pengendali? Di tengah laju teknologi yang makin cepat, kebijaksanaan menjadi satu-satunya rem yang bisa menyelamatkan kita dari jebakan gaya hidup yang menguras, bukan hanya uang—tapi juga ketenangan.***


















