MENTARI NEWS- Puisi-puisi Muhammad Alfariezie memperlihatkan kecenderungan khas penyair generasi 2020-an: batas antara pengalaman personal, realitas sosial, budaya populer, dan bahasa percakapan sengaja dibuat cair.
Dalam Angin Berhenti Begadang, Wali Dasi Berceloteh Enggak Rapi, hingga Intipan Penghujung Senja, Alfariezie tidak mengejar keindahan bahasa secara konvensional, melainkan membangun puisi dari serpihan kehidupan yang dekat dengan pembaca: sepak bola, politik kota, hujan, malam, kemiskinan, cinta, bahkan kegaduhan ruang publik.
Diksi seperti “enggak”, “tak sampai menutup betis”, atau “berceloteh” memberikan kesan lisan dan spontan.
Sementara itu, Hegemoni Ekstrem Barcelona menunjukkan keberanian membawa sepak bola dan nama-nama besar seperti Barcelona, Real Madrid, Hansi Flick, Mourinho, Guardiola, dan Ancelotti ke dalam wilayah puitik.
Di tangan Alfariezie, sepak bola bukan sekadar objek kegemaran, tetapi menjadi metafora tentang kekuasaan, kejayaan, kejatuhan, dan perebutan hegemoni. Berikut ini puisi-puisinya:
Angin Berhenti Begadang
Angin malam biasa saja, enggak
sanggup memaksa kita dan mereka
berbahagia hanya di rumah
Malah dengan seragam tipisnya,
pemuda dan orang tua main bola
dan di tribun
Istri dan pacar mereka menonton
hanya berkaos lengan pendek
dan beberapa di antaranya dengan
celana tak sampai menutup betis
Angin kegelapan, berhentilah begadang
karena sampai kapan pun tak akan
lebih hebat dari hujan
2026
Hegemoni Ekstrem Barcelona
Runtuh.. Akankah musim ini
hegemoni ekstrem Barcelona
takhluk oleh penetrasi akselerasi
Real Madrid di bawah Jose Mourinho
dengan kombinasi umpan satu duanya
Dua musim berlalu. Ancelotti sampai
ke Brasil, Xabi Alonso menetap di
London bersama Alvaro Arbeloa: Barca
tetap digdaya dengan pelatih Jermannya
Sementara El Real masih tak berguna
bersama Italia hingga anak kampung
sendiri
Itu pria tua Portugal kembali. Mampukah
Runtuhkan! Hegemoni ekstrem Catalunya
Hansi Flick
Layaknya dulu, Pep Guardiola kacau dan
enggak bersemi dengan The Bavarian
2026
Wali Dasi Berceloteh Enggak Rapi
Disebutnya bintang jujur tentang
bulan bersembunyi sedih sambil
menenggak vodka dan nikmat
ganja
Wali Kota gila, itu terus
ceritanya sambil menghitung
rencana jumlah korupsi hanya
memakai dasi tapi tanpa
celana dan baju di kamar yang
sedikit juga enggak rapi
Siapa yang memilihnya sehingga
kota ini berceloteh banjir menyentuh
surga
Berceloteh eraka yang kehilangan daya
dan berceloteh mega yang sudah
terlalu tua
2026
Hujan di Pucuk Bunga Jurang
Bunga berduri pinggir jurang
berteman hujan. Warnanya
merah berkaca bening: segar
Kupu-kupu enggak pernah alpa
sampai ke pucuknya hingga
tumbuh melulu pemandangan
pinggir jurang
Walau awan masih berat
menyingkap tirainya
Gerak lugu bunga pinggir jurang
refleksi kinanti yang selalh berseri
2025
Dewa Berenang di Awan
Seberapa dalam Anda menyelami
cinta? Sedasar samudera
berarti yang berbicara ini bukan
lagi manusia sedangkan Dewa
mungkin hanya berenang di awan
sebab sedalam-dalam mencinta
adalah mati seperti para pembunuh
diri dari gedung paling tinggi dan
sedalam-dalam mencinta adalah
mati seperti mereka di Palestina
Cinta kita yang sering bercanda dan
tertawa dalam kepalsuan rindu bahkan
belum sebatas berenang
di jarak aman
Berhentilah membual! Anda bahkan
belum pernah tergores karang
2025
Senyum yang Mengalir di Antara Gugur
Sebelum kembang gugur
melebur dengan sesuatu
yang subur, ingatlah
geraknya mengalirkan
senyum
Sebelum sungai mengering
menyisakan lumut dan batu,
rekamlah hijau teduh percik
dan gemerciknya
Sebelum jemu dan jauh
meninggalkanku, ingatlah
ladang bahagia kita telah
menyingkap warna rahasia
Kamu tentu tahu bagaimana
saya berusaha dan saya
paham semangatnya tumbuh
dari sana
2025
Komunikasi Terbang Sebatas Awan
Sesuai orbitnya, kita tidak bertanya
jam berapa dan kapan datang serta
perginya
Komunikasi dan terbang kita masih
sebatas awan. Belum mampu kita
menguasai. Matahari
Terlalu tinggi, menjadi sebab
pencapaian terhenti di bulan. Di
Malam yang ternyata tak pandai
menyimpan rahasia
2026
Intipan Penghujung Senja
Masih sempat dia mengintip
dari rimbun bukit padahal
waktu dan ruangnya tampak
sudah kian menyempit
Matahari, apakah belum
yakin bulan amanah dengan
cahayanya sehingga kita
dan mereka tetap ladang
rezeki orang maupun binatang?
Dan masih sempat diintipnya
perlahan dari bebatuan
cadas
Matahari, mungkin enggak
tega pemakaian bulan bikin
gerah bagi yang kurang
sejahtera
2026
Yang menarik, kecenderungan puitiknya bergerak dari dunia konkret menuju simbol.
Bunga, hujan, matahari, bulan, awan, jurang, sungai, dan senja dalam Hujan di Pucuk Bunga Jurang, Dewa Berenang di Awan, Senyum yang Mengalir di Antara Gugur, serta Komunikasi Terbang Sebatas Awan menjadi semacam kosakata eksistensial untuk membicarakan cinta, kehilangan, penderitaan, jarak, dan harapan.
Namun kekuatan Alfariezie justru terletak pada ketidakteraturan yang disengaja: puisinya kadang terasa seperti catatan pikiran yang belum sepenuhnya ditertibkan.
Dari sudut pandang estetika puisi kontemporer, ketegangan antara bahasa sehari-hari dan simbolisme itulah yang menjadi identitasnya.
Ia belum selalu menawarkan konstruksi metafora yang rapat, tetapi memiliki keberanian menciptakan suara puitik sendiri—suara yang spontan, sosial, kadang nakal, sekaligus reflektif.
Karena itu, Alfariezie dapat dibaca sebagai penyair muda yang sedang membangun wilayah kepenyairannya melalui pertemuan antara realitas Lampung, kegelisahan sosial, budaya populer, dan pencarian makna manusia pada zaman yang semakin bising.***



















