MENTARI NEWS- Optimisme mulai terasa di Bumi Dipasena, Tulangbawang, Lampung. Setelah bertahun-tahun berjalan sendiri tanpa perusahaan inti, para petambak eks Dipasena kini menunjukkan kebangkitan dengan mengelola tambak secara mandiri. Momentum ini ditandai dengan persiapan panen raya udang yang akan berlangsung 10–12 September 2025, sebuah momen penting yang diharapkan menjadi tonggak kembalinya kejayaan Dipasena sebagai salah satu sentra produksi udang terbesar di Indonesia.
Pada masa kejayaan tahun 1990-an, Lampung dikenal sebagai produsen udang nomor satu di Indonesia, berkat pola kemitraan yang berjalan mulus antara PT Dipasena Citra Darmaja dan PT Central Pertiwi Bahari. Namun, seiring berjalannya waktu, ketergantungan pada perusahaan inti berakhir, infrastruktur tambak menurun, dan posisi Lampung merosot ke peringkat lima nasional dalam produksi udang.
“Baik pemerintah pusat maupun daerah terus berupaya agar pertambakan Lampung, khususnya di Bumi Dipasena, bisa bangkit dan berjaya kembali,” ujar Direktur PT Sakti Biru Indonesia (SBI), Suseno Reffandi.
Tantangan Besar di Tengah Harapan
Meski berpengalaman dalam budidaya udang, para petambak eks Dipasena masih menghadapi tantangan berat. Lingkungan perairan yang tidak lagi seoptimal dulu, minimnya infrastruktur pendukung, ketiadaan standar operasional baku (SOP), serta keterbatasan modal membuat produksi udang sering tidak stabil. Hal ini menjadi hambatan besar bagi mereka untuk kembali bersaing di tingkat nasional.
Untuk menjawab masalah tersebut, PT SBI menjalin kerja sama erat dengan Badan Pengurus Wilayah (BPW) Bumi Dipasena Makmur (BDM) di bawah BPP P3UW Lampung. Kerja sama ini bertujuan untuk memperbaiki sistem budidaya udang dengan menerapkan SOP yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Pendampingan dan Pelatihan Petambak
Sebagai bentuk komitmen, PT SBI menyediakan pelatihan gratis bagi petambak terpilih di fasilitas riset dan produksi mereka yang berlokasi di Suak, Lampung Selatan. Materi pelatihan meliputi manajemen persiapan kolam, pemberian pakan pada masa kritis awal budidaya, serta pengecekan anco secara rutin untuk mengontrol kesehatan udang.
Lulusan pelatihan ini diharapkan menjadi agen perubahan di kelompoknya masing-masing. Selain pendampingan, PT SBI juga menyediakan benur berkualitas, probiotik, serta pakan tambahan dengan skema pembayaran ringan sehingga tidak membebani petambak. “Kami ingin SOP ini benar-benar berjalan optimal dan membawa hasil nyata di lapangan,” tegas Suseno.
Panen Raya sebagai Simbol Kebangkitan
Sebagai puncak dari upaya bersama, panen raya udang akan dilaksanakan di Bumi Dipasena. Acara ini tidak hanya menjadi simbol kebangkitan ekonomi masyarakat tambak, tetapi juga ajang memperlihatkan kepada publik bahwa Lampung siap kembali menjadi pusat udang nasional. Gubernur Lampung, Rahmat Mirzani Djausal, dijadwalkan hadir dalam acara tersebut.
“Gubernur sudah menyatakan kesediaannya untuk hadir di panen raya itu,” ungkap Suseno.
BPW Bumi Dipasena Makmur saat ini membawahi dua blok tambak, yakni Blok 10 dan Blok 11, yang dihuni oleh sekitar 1.200 kepala keluarga dengan total 2.400 petak tambak. Semangat kebersamaan dan gotong royong semakin kuat di kalangan petambak.
Sukri, salah satu perwakilan petambak, menyampaikan apresiasinya. “Kami sangat terbantu dengan adanya pendampingan ini. Ada rasa kekeluargaan di antara petambak, dan dengan SOP baru ini produksi mulai menunjukkan perbaikan. Semoga bisa jadi contoh bagi tambak-tambak lainnya,” ujarnya penuh harap.
Dukungan Komprehensif dari PT Sakti Biru Indonesia
Sebagai perusahaan perudangan terintegrasi, PT SBI tidak hanya bergerak di bidang budidaya, tetapi juga mengelola rantai usaha dari hulu ke hilir, mulai dari hatchery, nursery, pembesaran, hingga perdagangan pascapanen. Saat ini, PT SBI juga sedang menyiapkan unit cold storage untuk menjaga kualitas hasil panen sebelum didistribusikan ke pasar nasional maupun internasional.
Selain itu, PT SBI memiliki lini usaha pendukung berupa produksi probiotik, feed additive berbahan dasar maggot, serta laboratorium RT-PCR yang mampu mendeteksi dini hingga tujuh jenis penyakit udang. Hal ini memberikan rasa aman bagi petambak dalam menjaga kualitas dan produktivitas udang.
“Dengan pengalaman dan kompetensi yang kami miliki, ditambah antusiasme kerja sama dari petambak, kami optimistis dapat mendorong para petambak eks Dipasena kembali berjaya dan mengembalikan Lampung ke peta utama produksi udang nasional,” tutup Suseno penuh keyakinan.***



















