Muhammad Alfariezie Guncang Dunia Sastra Horor: Cari Donatur untuk Manuskrip “Dusun Keramat Desa Sumber Muncul”, Kisah Dosa yang Hidup Kembali di Tanah Terlupakan

banner 468x60

MENTARI NEWS– Nama Muhammad Alfariezie kembali mencuat di kalangan pecinta sastra setelah penulis muda asal Kota Bandar Lampung ini mengumumkan proyek besar terbarunya, “Dusun Keramat Desa Sumber Muncul”. Manuskrip ini merupakan sequel dari novel “Rumah Terbengkalai dan Dosa yang Tak Terampuni”, karya yang sebelumnya menuai sorotan karena keberanian tematiknya menggabungkan realitas sosial dan horor spiritual.

Tidak seperti kisah hantu pada umumnya, “Dusun Keramat Desa Sumber Muncul” menghadirkan lapisan cerita yang jauh lebih gelap dan manusiawi. “Ini bukan sekadar kisah hantu,” ujar Alfariezie dalam wawancara eksklusif. “Kisah ini berbicara tentang keserakahan, dosa, dan bagaimana kutukan bisa lahir dari kebusukan hati manusia sendiri. Setiap dosa yang tidak ditebus akan mencari cara untuk menagih balas.”

banner 336x280

Dalam naskah setebal hampir 200 halaman itu, Alfariezie menulis kisah tragis tentang Sahrudin, seorang pria yang tenggelam dalam ambisi duniawi dan akhirnya menjadi sumber kutukan bagi desanya sendiri. Rumah mewah yang dulu menjadi simbol kejayaan keluarganya kini berdiri muram di tengah reruntuhan moral dan spiritual. Dindingnya retak, anginnya dingin, dan di malam hari terdengar suara anak-anak bermain — meski tak ada siapa pun di sana.

“Sudah tidak ada lagi alasan bagi orang tua Sahrudin untuk menjual rumah peninggalannya itu,” tulis Alfariezie dalam salah satu potongan naskah yang viral di media sosial. “Rumah itu bukan lagi tempat tinggal, tapi penjara bagi dosa-dosa yang menolak mati.”

Kisah makin mencekam ketika sang ibu menemukan sebuah berita daring yang menyebutkan bahwa Sahrudin adalah penanggung jawab proyek pembangunan di Dusun Keramat — proyek yang menyebabkan longsor dan menewaskan banyak warga. Dari situlah rasa bersalah dan teror batin keluarga ini bermula.

“Ya Allah, ampunilah dosa anak saya jika berita ini benar,” ujar tokoh ayah dalam cerita, kalimat yang sekaligus menggambarkan puncak kehancuran batin seorang orang tua yang hidup di antara cinta dan kutukan.

Dalam novel ini, rumah angker bukan sekadar bangunan kosong. Ia menjadi simbol luka batin, penyesalan, dan dosa yang menolak terlupakan. Pagar berkarat, taman yang ditelan alang-alang, serta kolam renang berisi debu dan laba-laba menjadi metafora bagi kebusukan moral masyarakat. Para penjaga komplek pun tak berani melewati rumah itu sendirian. “Mending pos dijarah maling daripada harus dengar suara anak kecil main di rumah kosong itu,” kata seorang satpam bernama Ali, tokoh kecil yang menambah kedalaman realisme lokal di dalam cerita.

Melalui “Dusun Keramat Desa Sumber Muncul”, Alfariezie tidak hanya menulis cerita horor, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan dosa sosial — bagaimana kerakusan, kebohongan, dan ketamakan bisa mengundang azab dalam bentuk yang paling nyata. “Novel ini adalah doa dan peringatan,” ujarnya. “Tentang bagaimana manusia bisa dikubur oleh perbuatannya sendiri. Tentang bagaimana tempat bisa menjadi saksi abadi dari kejahatan yang tidak pernah ditebus.”

Kini, Alfariezie sedang membuka donasi dan kolaborasi dengan penerbit independen untuk menyelesaikan proses akhir penyuntingan dan produksi novel ini. Ia mengaku ingin melibatkan pembaca dalam perjalanan kreatifnya, menjadikan karya ini hasil gotong royong antara penulis dan masyarakat yang masih percaya bahwa sastra bisa menjadi ruang perlawanan.

Muhammad Alfariezie sebelumnya dikenal lewat novel debutnya “Rumah Darah”, yang memadukan gaya puitis dengan alur yang menyeramkan namun filosofis. Gaya sinematik, simbolisme religius, dan kritik sosial menjadi ciri khas yang membuat setiap karyanya terasa hidup — dan menakutkan dalam cara yang berbeda.

“Dusun Keramat Desa Sumber Muncul” diharapkan terbit pada pertengahan tahun depan, dan Alfariezie berencana menjadikannya bagian dari trilogi horor bertema “Dosa dan Penebusan”. Ia berharap novel ini tidak hanya menghibur, tetapi juga mengajak pembaca menatap diri sendiri — menemukan sisi gelap yang selama ini bersembunyi di balik topeng moral.***

banner 336x280